ECONOMICS

Airlangga Soroti Ekspor Gap di 4 Pasar Utama RI, Pastikan Urai Berbagai Hambatan

Nia Deviyana 16/10/2026 12:35 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan hasil pemetaan menunjukkan adanya ruang ekspansi yang besar untuk meningkatkan ekspor.

Airlangga Soroti Ekspor Gap di 4 Pasar Utama RI, Pastikan Urai Berbagai Hambatan. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan hasil pemetaan menunjukkan adanya ruang ekspansi yang besar untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Hal ini terlihat dari export gap (selisih antara nilai ekspor saat ini dengan nilai potensi ekspor maksimal) di sejumlah pasar utama. 

Berdasarkan data 2025, pasar ekspor utama Indonesia terkonsentrasi di China, Amerika Serikat, Jepang, dan India.

Di China, terdapat export gap sebesar USD31 miliar terutama berasal dari komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia. Sementara itu, di Amerika Serikat terdapat potensi export gap senilai USD14 miliar, antara lain pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia.

Potensi serupa juga teridentifikasi di Jepang dengan export gap USD5,5 miliar dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, produk hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia. Sementara itu, di India terdapat export gap USD10 miliar berasal dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.

“Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” tutur Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).

Untuk merealisasikan potensi tersebut, Pemerintah akan mendorong penguatan ekspor melalui pendekatan berbasis komoditas. Strategi ini mempertemukan potensi produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan, mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, dan manufaktur. Pengembangan produk elektronik dan teknologi serta produk telekomunikasi juga menjadi bagian dari pemetaan potensi ekspor.

Sebagai langkah dukungan konkret, Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga bersama pelaku usaha guna mengurai berbagai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standarisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis di lapangan.

“Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret,” kata Airlangga.

(NIA DEVIYANA)

SHARE