ECONOMICS

China Bidik Proyek PLTS 100 GW di Indonesia, Tawarkan Teknologi Penyimpanan Energi

Iqbal Dwi Purnama 10/06/2026 08:41 WIB

Sejumlah perusahaan China membidik proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia.

Sejumlah perusahaan China membidik proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia. (Foto: Ist)

IDXChannel - Sejumlah perusahaan China membidik proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia. Hal ini seiring target pemerintah yang akan membangun PLTS hingga 100 gigawatt (GW) dalam beberapa tahun mendatang. 

Keinginan Presiden Prabowo membangun PLTS hingga 100 gigawatt (GW) dinilai berpotensi menghadapi tantangan besar jika tidak dibarengi dengan pengembangan teknologi penyimpanan energi atau energy storage system (ESS). 

Sekretaris Jenderal Energy Storage and Smart Energy (EESA), Rene Duan mengatakan, teknologi tersebut dinilai menjadi komponen kunci untuk menjaga keandalan pasokan listrik di tengah meningkatnya penetrasi energi terbarukan.

"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara China dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan," ujar Rene dalam acara EESA Summit di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan energi terbarukan, khususnya tenaga surya. Namun, karakter energi surya yang bergantung pada kondisi cuaca membuat sistem penyimpanan energi menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Untuk mengatasi sifat pasokan energi surya dan angin yang tidak menentu, teknologi penyimpanan energi serta sistem microgrid menjadi kunci penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang stabil, andal, dan efisien di seluruh wilayah Nusantara. 

Chief Operating Officer (COO) Seven Event, Agus Riyadi, mengatakan pengembangan teknologi penyimpanan energi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas energi baru terbarukan agar target transisi energi nasional dapat tercapai.

Menurutnya, kerja sama antara Indonesia dan China dalam bidang teknologi penyimpanan energi dapat menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur energi bersih di dalam negeri.

"Kami berharap sinergi yang kuat antara Indonesia dan China, khususnya melalui pemanfaatan inovasi teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian target transisi energi bersih serta mendukung ketahanan energi nasional yang andal dan berkelanjutan," ujar Agus. 

Kebutuhan penyimpanan energi diperkirakan akan semakin besar seiring meningkatnya kapasitas pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Tanpa sistem penyimpanan yang memadai, pasokan listrik dari PLTS berisiko tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena produksi listrik hanya berlangsung saat matahari bersinar.

Selain itu, teknologi baterai dan sistem penyimpanan energi juga diperlukan untuk menjaga stabilitas jaringan listrik nasional ketika produksi listrik dari sumber energi terbarukan mengalami fluktuasi.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE