ECONOMICS

Danantara Groundbreaking PSEL di Bekasi Senilai Rp3 Triliun, Kelola 500 Ribu Ton Sampah

Iqbal Dwi Purnama 26/08/2026 11:08 WIB

Proyek tersebut akan dibangun dengan investasi Rp3 triliun.

Danantara Groundbreaking PSEL di Bekasi Senilai Rp3 Triliun, Kelola 500 Ribu Ton Sampah. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi melakukan groundbreaking proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Kota Bekasi, Jawa Barat. Proyek tersebut akan dibangun dengan investasi Rp3 triliun.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, proyek PSEL Kota Bekasi merupakan bagian dari upaya Danantara menindaklanjuti mandat pemerintah dalam mengembangkan pengolahan sampah menjadi energi listrik secara terstruktur dan profesional.

"Inisiatif ini akan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan 55.000 rumah masyarakat Kota Bekasi. Inisiatif yang bernilai Rp3 triliun ini dari sisi investasi, diperkirakan menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 90 persen," ujarnya di Bekasi, Rabu (26/8/2026).

Pandu menjelaskan, proses pemilihan mitra untuk proyek tersebut telah melalui tahapan evaluasi yang ketat. Pada 2-30 Januari 2026, terdapat enam konsorsium yang menyerahkan proposal untuk mengikuti proses seleksi.

"Dari enam konsorsium tersebut, hanya dua konsorsium yang berhasil lolos evaluasi dan kita lanjutkan ke tahap negosiasi pada bulan Januari hingga Februari 2026. Dan ini menunjukkan adanya proses penyaringan yang selektif dan menekankan prinsip kehati-hatian," katanya.

Setelah proses negosiasi, Danantara melanjutkan tahapan kerja sama dengan penandatanganan Joint Venture Agreement pada Maret 2026 dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada April 2026.

Selanjutnya, proyek PSEL Kota Bekasi ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional pada Mei 2026. Pada hari ini, proyek tersebut memasuki tahapan penting melalui groundbreaking sekaligus penandatanganan perjanjian jual beli listrik.

"Pada agenda hari ini, Rabu, 26 Agustus 2026, progres PSEL Kota Bekasi telah memasuki tahapan penting, yaitu penandatanganan perjanjian jual beli listrik," ujar Pandu.

Pandu menuturkan, proyek PSEL Kota Bekasi menjadi kelanjutan dari pengembangan solusi pengolahan sampah terintegrasi yang sebelumnya dilakukan di kawasan Denpasar Raya pada Juni 2026.

Dalam proses pemilihan mitra, Danantara melibatkan lebih dari 60 tenaga ahli dan profesional dari berbagai latar belakang. Tim tersebut memiliki pengalaman dalam berbagai proyek PSEL internasional, antara lain di Malaysia, Thailand, Tiongkok, Australia, Irlandia, Jerman, hingga Kuwait.

Selain pengalaman internasional, sejumlah tenaga ahli juga memiliki pengalaman mengembangkan proyek PSEL di dalam negeri. Pandu mengatakan, para tenaga ahli tersebut memberikan dukungan dari berbagai bidang, mulai dari teknis operasional, hukum, finansial, hingga lingkungan.

"Keterlibatan tim Danantara dan tim ahli independen menunjukkan bahwa proses pemilihan mitra ini terverifikasi dengan tata kelola yang baik dan dilakukan secara profesional," katanya.

Dari sisi lingkungan, PSEL Kota Bekasi ditargetkan memberikan dampak signifikan terhadap pengelolaan sampah dan pengurangan emisi. Proyek tersebut ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun atau sekitar 70 persen dari timbunan sampah terolah di Kota Bekasi.

Selain itu, PSEL Kota Bekasi diproyeksikan dapat menurunkan emisi sampah dari tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sekitar 640.000 ton setara CO2 per tahun.

"Program ini kami rancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengolahan sampah, energi hijau, dan memberdayakan ekonomi lokal dengan mengacu pada standar lingkungan EU IED atau European Industrial Emissions Directive," tutur Pandu.

Dari sisi energi, PSEL Kota Bekasi diproyeksikan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan listrik sekitar 55.000 rumah masyarakat Kota Bekasi. Sementara dari sisi ekonomi, proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau. Proyek ini juga ditargetkan mampu mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga sekitar 90 persen.

Pandu menegaskan, persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab satu daerah, melainkan persoalan bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

"Permasalahan sampah adalah permasalahan bersama kita semua. Mari berkolaborasi dan bersama-sama mewujudkan Indonesia yang bersih dan asri, aman, sehat, resik, dan indah," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

SHARE