Defisit APBN 0,93 Persen di Kuartal I-2026, Wamenkeu Optimistis Tak Sampai 3 Persen di Akhir Tahun
Intervensi lewat belanja pemerintah yang kemudian berpengaruh pada angka defisit, ditujukan untuk mengakselerasi perekonomian.
IDXChannel - Indonesia mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp240,1 triliun per 31 Maret 2026, atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan hal tersebut sesuai dengan perencanaan. Intervensi lewat belanja pemerintah yang kemudian berpengaruh pada angka defisit, ditujukan untuk mengakselerasi perekonomian.
"Kita tahu di triwulan satu, konsumsi pemerintah tumbuh cukup tinggi, 21,81 persen, sehingga defisitnya 0,93 persen. Ini memang by design. Pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi itu bukan di akhir tahun," kata Juda dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat yang dilangsungkan secara online, Kamis (7/5/2026).
Juda mengatakan pemerintah menargetkan peningkatan perekonomian terkerek sejak awal kuartal. Salah satu caranya adalah dengan mendorong belanja di awal tahun.
"Kalau pola-pola biasanya, itu belanja baru meningkat di triwulan empat. Nah, sekarang ini mulai triwulan satu juga sudah mulai kita dorong," kata dia.
Dia optimistis defisit APBN tak akan menyentuh 3 persen di akhir kuartal 2026 atau melebihi ambang batas resilien keuangan negara sebagaimana diamanatkan undang-undang. Sejumlah cara sedang diproses pemerintah untuk menekan defisit sembari memastikan instrumen fiskal tak mempengaruhi signifikan postur APBN.
"Dari sisi pembiayaan defisitnya, kami juga masih on track, masih terjaga dengan baik. Pembiayaan utangnya sudah mencapai 31,1 persen. Defisit fiskal bisa kita jaga di bawah 3 persen," kata dia.
Adapun defisit APBN terjadi akibat total pendapatan negara lebih rendah dibanding total belanja negara. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan pendapatan negara sampai 31 Maret 2026 tercatat Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari target 2026 sebesar Rp3.153 triliun. Angka ini tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, realisasi belanja negara Rp815 triliun atau 21,2 persen dari target belanja negara 2026 sebesar Rp3.842 triliun. Angka ini naik 31,4 persen dari realisasi belanja periode yang sama tahun lalu.
(NIA DEVIYANA)