ECONOMICS

Ekonomi Vietnam Diprediksi Lampaui Thailand pada 2026

Wahyu Dwi Anggoro 11/01/2026 09:00 WIB

Vietnam diprediksi menyalip Thailand dalam hal besaran produk domestik bruto (PDB) nominal pada 2026.

Ekonomi Vietnam Diprediksi Lampaui Thailand pada 2026. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Vietnam diprediksi menyalip Thailand dalam hal besaran produk domestik bruto (PDB) nominal pada 2026.

Dilansir dari Nikkei pada Minggu (11/1/2026), ekonomi Vietnam akan didorong oleh investasi infrastruktur besar-besaran tahun ini.

Di sisi lain, ketidakpastian politik domestik dan ketegangan perbatasan dengan Kamboja membebani ekonomi Thailand dan memperlambat pertumbuhannya.

PDB riil Vietnam pada 2025 diperkirakan akan tumbuh sekitar delapan persen, dan Hanoi telah menetapkan target pertumbuhan lebih dari 10 persen pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya. 

Meskipun beberapa pihak melihat target tersebut terlalu ambisius, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh bersikeras bahwa pertumbuhan dua digit dapat dicapai.

Jika pertumbuhan meningkat sesuai rencana, PDB nominal Vietnam dapat mencapai kisaran pertengahan USD500 miliar pada 2026 atau 2027, menyalip Thailand dan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara setelah Indonesia.  

PDB per kapita juga akan naik di atas USD5.000, mendekati level Indonesia.

Pendorong utamanya adalah pembangunan infrastruktur nasional. Rencana investasi publik untuk 2026 diperkirakan akan meningkat sekitar 26 persen. 

Hal ini tercermin dalam proyek-proyek seperti bandara baru di dekat Kota Ho Chi Minh yang akan dibuka pada 2026, sementara proyek kereta api yang didukung China di utara telah mulai dibangun.

Meskipun demikian, reformasi hukum dan pengurangan birokrasi masih dianggap penting untuk mempertahankan investasi asing. Lebih dari 2.000 proyek investasi masih terhambat oleh masalah yang belum terselesaikan.

Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan PDB riil Thailand hanya akan tumbuh sebesar 1,5 persen pada 2026, turun 0,5 poin persentase dari tahun sebelumnya.

Tingginya utang rumah tangga membebani konsumsi domestik, sektor pariwisata lambat pulih, dan tarif impor AS menambah tekanan pada sektor manufaktur Thailand. Dalam beberapa tahun terakhir, Suzuki Motor telah menghentikan produksi kendaraan roda empat di Thailand, sementara Honda Motor telah mengurangi produksinya. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE