Ekspor Perhiasan Tembus Rp160 Triliun, Kemenperin Pacu Transformasi Digital IKM
Transformasi ini diimplementasikan melalui berbagai program pembinaan, peningkatan kapasitas industri, transformasi teknologi, hingga perluasan akses pasar.
IDXChannel—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk akselerasi pengembangan industri perhiasan nasional sebagai salah satu subsektor manufaktur bernilai tambah tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap ekspor.
Sepanjang 2025, nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga nasional berhasil mencapai USD9,1 miliar (Rp160,74 triliun).
Capaian tersebut mencerminkan lonjakan tajam sebesar 64,73 persen jika dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD5,5 miliar (Rp97,15 triliun).
Akselerasi ini diimplementasikan melalui berbagai program pembinaan, peningkatan kapasitas industri, transformasi teknologi, hingga perluasan akses pasar global yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri perhiasan memiliki karakteristik unik karena memadukan kreativitas, keterampilan tangan, warisan budaya, dan teknologi canggih.
Agus menilai momentum pertumbuhan ini harus terus dijaga melalui penguatan ekosistem industri yang adaptif terhadap fluktuasi harga bahan baku, perubahan preferensi konsumen, serta tantangan ekonomi global.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menekankan pentingnya implementasi Industri 4.0 dan transformasi digital guna mengerek daya saing sektor ini.
Pemanfaatan teknologi modern terbukti mampu meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat inovasi, dan menghasilkan produk dengan tingkat presisi tinggi.
Kemenperin juga telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) terhadap sejumlah pelaku industri logam mulia dan perhiasan, yang menunjukkan hasil tingkat kematangan yang baik dalam adopsi digitalisasi sistem manajemen, kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, hingga integrasi teknologi pintar dalam proses manufaktur.
Sinergi ini tidak hanya mempertemukan produsen dengan pembeli potensial secara langsung, melainkan juga membuka peluang transaksi dan investasi yang lebih luas.
Melalui ruang kolaborasi dan pertukaran inovasi ini, komoditas perhiasan Indonesia diharapkan dapat terus meningkatkan kualitasnya agar semakin diterima dan memiliki daya saing yang tangguh di pasar internasional.
(Eugenia Siregar)