ECONOMICS

Giant Sea Wall Segera Digarap, Bisa Atasi Banjir Rob hingga Penurunan Permukaan Tanah Pantura

Rohman Wibowo 23/02/2026 17:44 WIB

Presiden Prabowo Subianto ingin mega proyek untuk penanggulangan masalah penurunan permukaan tanah di pesisir ini segera digarap.

Giant Sea Wall Segera Digarap, Bisa Atasi Banjir Rob hingga Penurunan Permukaan Tanah Pantura

IDXChannel - Rencana proyek pembangunan Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) diklaim sudah masuk tahap penggarapan rencana induk atau master plan.

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyebut, proses penggodokan master plan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto yang ingin mega proyek untuk penanggulangan masalah penurunan permukaan tanah di pesisir ini segera digarap.

Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, urgensi pembangunan GSW sebagai alternatif dalam mengatasi masalah pesisir seperti banjir rob, degradasi, penurunan muka air tanah hingga masalah banjir, yang salah satunya dipicu dari tersendatnya aliran air lantaran tidak ada daerah penampung semisal embung atau bendungan.

"Nah dengan kondisi seperti itu maka Bapak Presiden mengarahkan kepada kami, dan diteruskan dengan pengarahan-pengarahan berikutnya, di mana disegerakan susun atau siapkan master plan persiapan rencana induk pembangunan atau perlindungan Pantura Jawa," kata Didit saat ditemui di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Dalam kajian BOPPJ, kata dia, setidaknya ada 17 juta jiwa penduduk di wilayah Pantura Jawa yang terdampak dari banjir rob dan penurunan permukaan tanah. Seturut itu, ada potensi kerugian secara ekonomi hingga USD368,37 miliar. 

Didit mencontohkan GSW di pesisir Jakarta bakal dibagi menjadi dua bagian, tanggul raksasa laut di timur dan barat. Di antara dua GSW itu, dibangun jembatan. Lalu, di sisi GSW pun dibuat waduk retensi, yang digadang-gadang bakal berpotensi menjadi pasokan air baku bagi ibu kota.

Didit menjelaskan bahwa BOPPJ yang disupervisi Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menjalin sinergi dengan tenaga ahli dari kalangan universitas dan ahli lingkungan, yang mengetahui betul soal akar masalah adanya abrasi di pesisir.

Dari kajian yang dibangun bersama para ahli, proyek GSW yang diawasi BOPPJ bakal memulai penulisan naskah akademik sebagai landasan dalam tahap perencanaan, termasuk mematangkan eksekusi proyek secara simultan di kawasan Pantura. 

Peranan ahli dari luar Indonesia juga turut dilibatkan dalam perencanaan proyek GSW.

Didit mengatakan proyek tanggul laut raksasa merujuk pada praktik baik negara lain yang berhasil menekan dampak abrasi.

"Sedangkan pelaksanaannya nanti kami lakukan bersama-sama dengan rekan-rekan tidak hanya dari dalam negeri, tentunya dari luar negeri yang sudah expert. Contoh misalkan Belanda. Belanda sudah 135 tahun lebih kurang sudah melaksanakan kegiatan pembangunan dam, yang mana dia hidup di bawah garis eh laut itu sekitar 5 sampai 11 meter," katanya.

"Nah, teknologi-teknologi kekinian yang dilakukan oleh negara-negara yang sudah melaksanakan, baik Jepang, Korea, Cina, Belanda, Belgia, dan negara-negara Eropa lainnya, itu kami tetap kawinkan dan kami gunakan yang terbaik untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan," katanya.

Perlu diketahui, GSW kawasan Pantura direncanakan mencakup wilayah sepanjang 535 kilometer yang tersebar di lima provinsi mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta lima wilayah kota dan 25 wilayah kapubaten.

Adapun nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$ 80 miliar, dengan tahapan awal pembangunan di Teluk Jakarta yang diperkirakan menelan biaya hingga USD10 miliar.

(Nur Ichsan Yuniarto)

SHARE