Harga Emas Naik, Bagaimana Prospek Kilau Industri Perhiasan RI?
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita justru optimistis sektor perhiasan juga memiliki peluang pertumbuhan yang cerah.
IDXChannel - Kenaikan harga logam mulia yang mendorong minat masyarakat berinvestasi emas disebut tidak mengurangi prospek industri perhiasan nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita justru optimistis sektor perhiasan juga memiliki peluang pertumbuhan yang cerah.
Menurutnya, meskipun tren kenaikan harga emas membuat logam mulia semakin menarik sebagai aset investasi, namun kebutuhan masyarakat terhadap perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata diperkirakan tetap terjaga. Ini karena produk perhiasan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai aksesori dan koleksi.
“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun, jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata karena memiliki dua fungsi yaitu sebagai investasi dan aksesori yang bisa dipakai dan dikoleksi,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (31/5/2026).
Berdasarkan data World Gold Council, permintaan emas batangan global mencapai 1.402 ton pada 2025, meningkat 16 persen dibandingkan 1.208 ton pada tahun sebelumnya. Sementara itu, konsumsi perhiasan emas di Indonesia tercatat turun 27 persen dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.
Meski konsumsi domestik menurun, Agus menegaskan, kondisi tersebut tidak serta-merta menggerus kinerja industri perhiasan nasional. Menurutnya, industri perhiasan masih menunjukkan kontribusi signifikan terhadap neraca perdagangan Indonesia.
“Industri perhiasan masih memberikan kontribusi yang besar bagi neraca perdagangan Indonesia, terlihat dari nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga yang tumbuh signifikan 64,72 persen pada 2025. Nilainya naik dari USD5,5 miliar pada 2024 menjadi USD9,1 miliar pada 2025,” ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyampaikan, mayoritas pelaku industri kecil dan menengah (IKM) perhiasan tetap memilih fokus memproduksi perhiasan dibandingkan beralih ke bisnis logam mulia. Sebab, pasar perhiasan masih cukup kuat, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) mencatat terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia yang terdiri atas 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil. Sektor ini juga menyerap sebanyak 21.116 tenaga kerja.
“Laporan Trademap.org memperlihatkan bahwa 83,96 persen produk utama ekspor industri perhiasan Indonesia berupa barang perhiasan dan bagiannya dari logam mulia selain perak dengan nilai mencapai USD7,64 miliar,” ujar Reni.
Reni menilai, daya saing industri perhiasan Indonesia terletak pada kreativitas desain dan sentuhan identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik tersendiri di pasar global. Pelaku industri juga dinilai memiliki fleksibilitas untuk berinovasi menggunakan berbagai jenis material, seperti emas, perak, hingga mineral lainnya sesuai kondisi pasar dan kemampuan pembelian bahan baku.
Sementara itu, Direktur Industri Aneka Ditjen IKMA Reny Meilany menyebutkan, masyarakat masih memiliki banyak pilihan untuk berinvestasi melalui emas perhiasan dengan kadar dan gramasi yang lebih variatif.
“Bagi konsumen lokal, emas perhiasan dengan karat dan gramasi kecil serta desain yang menarik tetap bisa menjadi simpanan favorit sekaligus sebagai bentuk investasi,” kata dia.
(Dhera Arizona)