ECONOMICS

IMF Nilai Ekonomi Global Mampu Hadapi Guncangan energi, Tapi Soroti Kekhawatiran Fiskal

Febrina Ratna Iskana 26/08/2026 07:47 WIB

Direktur Pelaksana IMF mengatakan ekonomi global telah menghadapi guncangan energi akibat konflik Iran dengan lebih baik daripada yang dikhawatirkan selama ini.

IMF Nilai Ekonomi Global Mampu Hadapi Guncangan energi, Tapi Soroti Kekhawatiran Fiskal. (Foto: Dok. IMF)

IDXChannel - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan ekonomi global telah menghadapi guncangan energi akibat konflik Iran dengan lebih baik daripada yang dikhawatirkan selama ini.

Namun, ia juga menyoroti kekhawatiran mengenai memburuknya kondisi fiskal di beberapa negara, yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi dan terhentinya proses disinflasi.

Dalam sebuah pengarahan menjelang pertemuan para menteri keuangan G20 pekan depan di Asheville, Carolina Utara, Georgieva mengatakan adanya "tarik-menarik" antara dampak negatif guncangan pasokan energi dari kawasan Teluk dan faktor pendorong pertumbuhan yang berasal dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI)—yang kini mulai meluas hingga ke luar perbatasan Amerika Serikat.

Ia menyatakan bahwa risiko terhadap prospek ekonomi global kini lebih seimbang dibandingkan April, namun masih cenderung mengarah pada penurunan (risiko sisi negatif). Hal ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan fiskal serta kemungkinan bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat demi mengendalikan inflasi.

“(Pertumbuhan ekonomi global) bertahan menghadapi hambatan kuat akibat tingginya tingkat utang, inflasi yang membandel, dan ketegangan perdagangan. Sejauh ini, ekonomi global mampu menghadapi guncangan energi akibat penutupan Selat Hormuz dengan lebih baik daripada yang kami khawatirkan, berkat kombinasi berbagai faktor," kata Georgieva pada Selasa (25/8/2026) dikutip dari Reuters.

Faktor-faktor tersebut mencakup penggunaan cadangan minyak dan gas oleh banyak negara, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, penurunan permintaan energi, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta kembali digunakannya pembangkit listrik tenaga batu bara di beberapa wilayah.

“Investasi AI di AS menjaga kinerja laba perusahaan dan belanja konsumen tetap kuat, sementara negara-negara lain juga mulai meningkatkan pembangunan pusat data serta pasokan perangkat keras AI,” ujarnya.

Paparan mengenai kondisi ekonomi global ini tidak disertai dengan prakiraan baru. Pada Juli lalu, IMF telah menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun 2026 ke angka yang lesu sebesar 3,0 persen, sembari memperingatkan adanya risiko penurunan lebih lanjut akibat konflik di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, dan potensi ketidakpastian terkait AI.

IMF dijadwalkan memperbarui kembali proyeksi pertumbuhan global pada pertengahan Oktober mendatang dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok.

Guncangan Energi Belum Berakhir

Lebih lanjut, Georgieva memperingatkan para pembuat kebijakan agar tidak lengah, mengingat harga acuan minyak mentah Brent telah bergerak di kisaran USD80–USD90 per barel sejak pertengahan Juni—angka yang jauh di bawah puncak harga pada musim semi yang sempat melampaui USD118.

"Guncangan energi ini belum berakhir. Kenaikan kembali harga minyak dapat memicu inflasi, sehingga memaksa bank sentral untuk mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif, yang pada gilirannya berdampak pada biaya layanan utang dan aktivitas ekonomi,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa semua negara perlu mengatasi masalah fiskal mereka serta menyusun dan memaparkan rencana yang kredibel untuk memastikan utang dan defisit mereka berada pada jalur yang berkelanjutan.

Ia tidak secara khusus menyebutkan negara mana yang memerlukan konsolidasi fiskal. Namun, komentarnya muncul setelah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 30 tahun ke tingkat tertinggi dalam 19 tahun pada pekan lalu, yang mendorong Menteri Keuangan Scott Bessent untuk secara mengejutkan melipatgandakan volume pembelian kembali obligasi jangka panjang demi menekan biaya pinjaman.

IMF telah lama mendesak Washington untuk mengurangi defisit fiskal yang terus membengkak; langkah ini juga akan membantu memperkecil defisit perdagangan dan transaksi berjalan AS.

Georgieva menyatakan bahwa bank sentral harus tetap "sangat fokus" pada mandat stabilitas harga di tengah risiko inflasi yang masih ada, meskipun ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter yang ketat dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Ia juga mengatakan bahwa berbagai negara perlu mengatasi "ketidakseimbangan global yang berlebihan" yang memicu ketegangan perdagangan. Meski tidak menyebutkan negara secara spesifik, Georgieva telah lama mendesak China untuk menyeimbangkan kembali model pertumbuhannya—beralih dari ketergantungan pada ekspor yang membanjiri pasar global dengan barang-barang murah, menuju model yang didorong oleh permintaan konsumen domestik.

"Ekonomi yang lebih seimbang berarti ekonomi global yang lebih kuat, dan hal itu bermanfaat bagi semua pihak," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tujuan tersebut lebih sulit dicapai di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

Ia menyebutkan bahwa IMF sedang menyempurnakan model penilaian keseimbangan eksternal dan akan memperdalam analisis mengenai faktor-faktor pemicu ketidakseimbangan tersebut—termasuk interaksi antara tren makroekonomi, perdagangan, dan kebijakan industri—dalam serangkaian laporan yang akan diterbitkan mendatang. (Febrina Ratna Iskana)

SHARE