IMF Peringatkan Dampak Lonjakan Imbal Hasil Obligasi ke Negara Berkembang
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi negara-negara maju turut mengancam negara-negara berkembang.
IDXChannel - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi negara-negara maju turut mengancam negara-negara berkembang.
"Tingkat utang yang tinggi di negara-negara maju, dikombinasikan dengan inflasi yang membandel, dapat menyebabkan biaya layanan utang meningkat untuk semua orang, termasuk untuk negara berpenghasilan rendah, untuk negara-negara berkembang," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam wawancara dengan Reuters, dilansir dari The Nation pada Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, imbal hasil obligasi negara-negara maju terdorong naik oleh tingkat utang yang tinggi, tekanan inflasi yang berkelanjutan akibat penutupan Selat Hormuz, dan persaingan dari utang swasta terkait kecerdasan buatan (AI).
Obligasi pemerintah AS mengalami aksi jual dalam beberapa minggu terakhir, mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS 30 tahun ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Pada 2022, IMF memperkirakan bahwa 60 persen negara berpenghasilan rendah mengalami kesulitan utang atau berisiko tinggi mengalami kesulitan utang. Masalah tersebut saat ini telah mereda karena reformasi kebijakan fiskal yang kuat dengan dukungan dari lembaga internasional dan kreditor resmi.
"Kemajuan tersebut kini dalam bahaya," katanya.
"Kita perlu mengingat bahwa beberapa negara berkembang telah bekerja sangat keras untuk mendapatkan kredibilitas pasar dan menekan spread. Hal itu dapat terhapus oleh kenaikan biaya pembayaran utang, yang dipicu peningkatan imbal hasil secara global oleh negara-negara maju," ujarnya.
(Wahyu Dwi Anggoro)