IDXChannel - Wall Street mengawali September dengan ditutup melemah dan secara historis mencatatkan kinerja terburuk pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Hal itu terjadi di tengah lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury.
Sementara itu, data ekonomi menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang melambat namun secara keseluruhan tetap tangguh, sehingga probabilitas terkait suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebagian besar tidak berubah.
Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 1 persen dan ditutup pada level 26.099,77 poin, indeks acuan S&P 500 turun 0,7 persen menjadi 7.632,70 poin, dan indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average turun 0,8 persen ke posisi 52.767,59 poin.
Padahal para investor baru saja melewati kinerja positif di Agustus, yang sebagian besar didorong oleh musim laporan keuangan yang kuat dan sedikit pemulihan pada sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, pasar saham mengalami pergerakan yang sangat fluktuatif, terombang-ambing oleh volatilitas harga minyak yang berkelanjutan dan aksi jual di pasar obligasi, yang menghasilkan pola reli yang diikuti oleh koreksi harga.
"Saat ini, yang paling dibutuhkan pasar adalah stabilitas. Pola reli lalu turun, reli lalu turun seperti sekarang ini tidak dapat bertahan lama—dan dengan latar belakang serangan baru di Timur Tengah, ketegangan perdagangan dengan Kanada, serta kembali melonjaknya harga minyak, gambaran makroekonomi menjadi semakin tidak menentu," ujar mantan gubernur Bank Dunia untuk Kazakhstan, Yerbol Orynbayev, kepada Investing.com, Selasa (1/9/2026).