ECONOMICS

Indonesia dan Filipina Bentuk Koridor Nikel ASEAN, Proyeksi Investasi Hilirisasi Capai USD47,36 M

Shifa Nurhaliza Putri 08/05/2026 12:55 WIB

Pemerintah juga memproyeksikan investasi sektor hilirisasi nikel dapat mencapai USD47,36 miliar hingga 2030.

Indonesia dan Filipina Bentuk Koridor Nikel ASEAN, Proyeksi Investasi Hilirisasi Capai USD47,36 M (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Penandatanganan dilakukan dalam rangkaian Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Cebu, Kamis (7/5/2026), bertepatan dengan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Filipina dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48.

Kerja sama tersebut menjadi tindak lanjut pembahasan ekonomi regional dalam KTT ASEAN Economic Community Council (AECC) ke-27 pada 6-7 Mei 2026, khususnya terkait penguatan rantai pasok mineral kritis di kawasan ASEAN.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara gabungan menguasai 73,6 persen produksi nikel global pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 66,7 persen atau 2,6 juta ton produksi dunia, sementara Filipina berkontribusi sebesar 6,9 persen atau 270.000 ton.

Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5 persen cadangan nikel dunia atau sekitar 62 juta ton, sedangkan Filipina memiliki 3,4 persen atau 4,8 juta ton.

Airlangga menyebut kerja sama tersebut menjadi fondasi pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel dari Filipina.

" Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).

Ia mengatakan Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang terus berkembang dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai USD9,73 miliar pada 2025. Pemerintah juga memproyeksikan investasi sektor hilirisasi nikel dapat mencapai USD47,36 miliar hingga 2030, dengan potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 180.600 orang.

Menurut Airlangga, kebutuhan pasokan bijih nikel untuk smelter dalam negeri dapat diperkuat melalui skema blending dengan bijih nikel asal Filipina yang memiliki rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tertentu.

“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat,” katanya.

Dalam MoU tersebut, APNI dan PNIA menyepakati sejumlah ruang lingkup kerja sama, meliputi pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi serta pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, hingga pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung industri nikel berkelanjutan.

Selain sektor nikel, hubungan perdagangan kedua negara juga terus meningkat. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Filipina tercatat mencapai USD10,22 miliar atau setara 8,4 persen dari total impor Filipina. Dengan capaian tersebut, Indonesia menjadi mitra dagang terbesar ketiga Filipina setelah Tiongkok dan Jepang.

Airlangga menambahkan, pengembangan industri nikel juga diarahkan untuk mendukung transisi energi melalui penguatan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi untuk panel surya.

Pemerintah, lanjutnya, juga mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis guna memperkuat investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, serta inovasi teknologi hilirisasi.

(Shifa Nurhaliza Putri)

SHARE