Indonesia Masih Jadi Magnet Investor Asing di Tengah Volatilitas Pasar Global
Berbagai pencapaian terkait indikator makro ekonomi maupun kemajuan signifikan dalam negosiasi perdagangan Indonesia.
IDXChannel - Indonesia tetap berada dalam radar investor global di tengah gejolak ekonomi global dan ketidakpastian pasar yang masih berlangsung.
Stabilitas makroekonomi, arah kebijakan yang konsisten, serta komitmen kuat terhadap integrasi pasar internasional menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang dinilai relevan, kompetitif, dan berjangka panjang.
Daya tarik tersebut ditopang oleh kombinasi faktor struktural yang jarang dimiliki negara berkembang yakni stabilitas makroekonomi, demokrasi yang relatif matang, serta basis demografi muda yang produktif. Dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, Indonesia menawarkan kepastian jangka menengah yang dibutuhkan investor global di tengah volatilitas pasar internasional.
Fondasi makroekonomi yang stabil dan agenda reformasi yang berkelanjutan, menjadikan Indonesia dipandang sebagai negara dengan arah kebijakan yang jelas dan memiliki kapasitas untuk menangkap peluang investasi jangka menengah dan panjang. Hal ini menjadi salah satu topik utama yang diangkat dalam gelaran hari pertama Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang berlangsung dua hari di Jakarta, 3-4 Februari 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya di IES 2026 mengungkapkan berbagai pencapaian terkait indikator makro ekonomi maupun kemajuan signifikan dalam negosiasi perdagangan Indonesia.
"Sebagian besar negosiasi perdagangan telah diselesaikan, dengan Kanada, dengan UE, dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), dan kami sedang dalam proses menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat," kata Airlangga dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).
Dia menambahkan, bersama negara-negara G20, Indonesia mendapatkan komitmen JETP sebesar USD21,4 miliar dan telah dimanfaatkan sekitar USD3,5 miliar. Australia juga menyatakan rencananya berinvestasi di Indonesia.
Di tingkat regional, pihaknya juga mengajak Sarawak Air Malaysia untuk berkolaborasi dalam membuka konektivitas transportasi guna mendukung destinasi pariwisata di luar Jakarta dan Bali. Selain itu, Indonesia dengan Singapura dalam pengembangan kawasan ekonomi khusus dan program digital.
“Ini berarti ada banyak modal dalam pipeline yang siap untuk diinvestasikan di Indonesia," katanya.
Dihadapan para tamu IES 2026, Airlangga juga menyampaikan agenda reformasi pasar modal yang baru saja diluncurkan Indonesia dengan fokus pada empat pilar: efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum. “Hingga pagi ini, pasar modal telah kembali ke zona hijau, yang menandakan respons pasar yang positif," ujar dia.
Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council Arsjad Rasjid menekankan kehadiran Indonesia Economic Summit (IES) 2026 menjadi platform strategis untuk membangun kepercayaan investor di tengah dunia yang penuh dengan "multiple layers of unknowns” (ketidakpastian yang berlapis).
“Tujuan kami adalah memastikan Indonesia tetap atraktif, kompetitif, dan produktif. Fokus kami tertuju pada tiga pilar utama yakni Kepastian (Certainty), Kapabilitas (Capability), dan Modal (Capital),” ujar Arsjad.
Terdapat berbagai inisatif yang dilakukan dalam IES 2026, salah satunya peluncuran Business 57+ (B57+) Asia-Pacific Regional Chapter. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Islam dan mitra strategisnya, dengan Indonesia diposisikan sebagai simpul utama kerja sama di kawasan Asia-Pasifik.
Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel menyampaikan, peluncuran B57+ merupakan inisiatif kolektif yang didedikasikan untuk masa depan kemanusiaan yang lebih baik.
”Dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan, dapat memainkan peran utama dalam memajukan masyarakat kita. Visi ini sejalan dengan komitmen para pemimpin politik di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan yang secara aktif berupaya memberdayakan sektor swasta melalui reformasi legislatif dan infrastruktur digital,” kata Abdullah Saleh Kamel.
Chief Economist Indonesian Business Council (IBC) Denni Purbasari mengatakan, sebagai negara demokrasi dengan penduduk muda yang besar, diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5,1-5,2 persen, menjadi daya tarik tersendiri bagi Indonesia untuk meraih investasi global.
“Komitmen pemerintah terhadap openness dan reform, kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor yang menarik bagi investor asing untuk masuk, baik melalui direct investment maupun portofolio,” kata Denni.
Sejumlah program prioritas Pemerintah seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, dan kesehatan, menambah peluang kemitraan antara pelaku bisnis dalam negeri dengan investor global.
“Sektor yang menarik tidak hanya terkait rantai pasok kendaraan listrik, tapi juga di sektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan perikanan yang mendukung ketahanan pangan, sektor energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan, bahkan sektor pendidikan termasuk vokasi yang semakin serius ditingkatkan oleh pemerintah agar skill masyarakat Indonesia mampu menjawab tantangan,” ujar dia.
(kunthi fahmar sandy)