ECONOMICS

Inflasi AS Melonjak dengan Laju Tercepat dalam 3 Tahun, Bawa Tekanan Bagi The Fed

Nia Deviyana 29/05/2026 06:58 WIB

Inflasi Amerika Serikat (AS) melonjak pada laju tercepat dalam tiga tahun, seiring perang AS-Iran mendorong kenaikan harga energi.

Inflasi AS Melonjak dengan Laju Tercepat dalam 3 Tahun, Bawa Tekanan Bagi The Fed. Foto: Freepik.

IDXChannel - Inflasi Amerika Serikat (AS) melonjak pada laju tercepat dalam tiga tahun, seiring perang AS-Iran mendorong kenaikan harga energi.

Indeks pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), ukuran inflasi yang dipilih oleh Federal Reserve (The Fed) sebagai rujukan membuat kebijakan, naik 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 3,5 persen pada Maret 2026.

Secara bulanan, indeks PCE naik 0,4 persen pada April setelah meningkat 0,7 persen pada Maret.

Secara keseluruhan, harga barang naik 0,7 persen. Kenaikan terbesar terjadi pada bahan bakar, dengan harga melonjak 5,5 persen seiring ketegangan dengan Iran yang menekan pasar energi global. Harga rata-rata bensin mencapai USD4,42 per galon (3,78 liter), naik dari USD4,17 bulan lalu, dan meningkat dari USD2,98 per galon pada 28 Februari, saat AS dan Israel menyerang Iran.

Harga pangan juga naik 0,5 persen, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak November 2022.

Biaya perumahan dan utilitas turut meningkat sebesar 0,6 persen. Pengeluaran konsumen juga naik 0,5 persen setelah sebelumnya meningkat 1 persen pada Maret. Selain itu, semakin banyak konsumen yang menggunakan tabungan mereka, dengan tingkat tabungan turun 2,6 persen bulan lalu.

Tekanan terhadap Federal Reserve

Kenaikan inflasi ini memberi tekanan pada Federal Reserve menjelang rapat kebijakan pertama bank sentral di bawah Ketua baru Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada 16–17 Juni. Bank sentral memantau inflasi PCE dalam upayanya mencapai target 2 persen.

“Gambaran inflasi menjadi semakin tidak nyaman bagi The Fed,” kata kepala ekonom AS di Fitch Ratings, Olu Sonola, kepada Reuters.

 Tekanan harga kemungkinan akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, dan meskipun The Fed tidak bisa memperbaiki guncangan sisi penawaran, Sonola mengatakan mereka juga tidak bisa mengabaikannya jika hal itu memicu inflasi yang lebih luas.

Secara luas diperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen hingga setidaknya 2027. Analisis terbaru dari JPMorgan Chase menunjukkan bahwa suku bunga kemungkinan tetap stabil hingga pertengahan 2027, sebelum akhirnya naik.

Hal ini tercermin dalam risalah rapat bank sentral pada 28–29 April, yang menunjukkan para pembuat kebijakan cenderung mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

(NIA DEVIYANA)

SHARE