ECONOMICS

Inflasi Tahunan Februari 2026 Diproyeksi Naik di Kisaran 3,64-3,92 Persen

Nia Deviyana 09/02/2026 16:42 WIB

Risiko kenaikan inflasi terutama datang dari faktor musiman dan cuaca, yaitu meningkatnya permintaan menjelang Ramadan.

Inflasi Tahunan Februari 2026 Diproyeksi Naik di Kisaran 3,64-3,92 Persen. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksi inflasi tahunan Februari 2026 berada di kisaran 3,64-3,92 persen (year on year/YoY).

Sementara itu, tren deflasi secara bulanan diperkirakan berlanjut pada Februari 2026 sekitar 0,12-0,39 persen (month to month/mtm).

"Risiko kenaikan inflasi terutama datang dari faktor musiman dan cuaca, yaitu meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan potensi kenaikan tarif transportasi saat mobilitas mulai naik menuju periode Idulfitri, terutama jika pemerintah tidak melakukan pengendalian tarif dan pasokan," tulis LPEM FEB UI dalam Inflasi Bulanan Februari 2026, Seri Analisis Makroekonomi, dikutip Senin (9/2/2026).

Risiko juga dapat membesar apabila curah hujan tetap tinggi yang kemudian dapat memicu banjir di sentra produksi pangan dan mengganggu distribusi, sehingga penurunan harga pangan yang berlangsung di Januari tidak berlanjut ke bulan berikutnya. 

Selain itu, risiko lonjakan Inflasi dapat didorong oleh kenaikan permintaan pada beberapa komoditas pangan utama selama periode Ramadan bersamaan dengan berlanjutnya kebutuhan Makanan Bergizi Gratis (MBG), terutama apabila terjadi ketimpangan pasokan dan penyaluran antarwilayah pada periode cuaca ekstrem.

Memasuki awal 2026, inflasi tahunan Januari melonjak ke titik tertinggi dalam 37 bulan terakhir dan berada sedikit di atas batas atas target Bank Indonesia (BI) 2,5±1 persen. 

Angka inflasi pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen (YoY), jauh lebih tinggi dibandingkan 0,76 persen (YoY) pada Januari 2025. Kenaikan ini disebabkan low base effect dari penerapan diskon tarif
listrik pada Januari hingga Februari tahun lalu. 

Oleh sebab itu, lonjakan hanya dirasakan secara tahunan, sementara basis bulanan mencatat deflasi 0,15 persen (mtm). 

Tren deflasi bulanan pada awal tahun ini berlanjut dari tahun lalu yang mencapai 0,76 persen (mtm) seiring dengan siklus normalisasi sebagian harga pangan dan biaya transportasi.

(NIA DEVIYANA)

SHARE