ECONOMICS

Investor Vietnam Tertarik Bangun Pabrik Susu di Sulteng

Tangguh Yudha 26/09/2024 10:42 WIB

Perusahaan asal Vietnam dikabarkan tertarik membangun pabrik susu di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Perusahaan asal Vietnam dikabarkan tertarik membangun pabrik susu di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (Foto: Dok. Kementan)

IDXChannel - Perusahaan asal Vietnam dikabarkan tertarik membangun pabrik susu di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Pabrik tersebut juga akan dilengkapi dengan peternakan sapi sehingga bahan bakunya tak perlu impor.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah siap mendukung investor asing untuk menanamkan modalnya di industri susu. Apalagi, kehadiran industri susu dibutuhkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis yang digagas Presiden Terpilih, Prabowo Subianto.

"Investornya, alhamdulillah mereka tertarik berinvestasi di Kabupaten Poso. Kami mendapatkan arahan dari Bapak Presiden dan Bapak Presiden Terpilih untuk kita membangun peternakan, dairy cattle untuk produksi susu di sini," katanya di Poso dikutip Kamis (26/9/2024).

Mentan mengungkapkan, komitmen investasi tersebut merupakan hasil dari kunjungannya ke Vietnam beberapa waktu lalu. Dia menyebut, jika investor tersebut merealisasikan rencana investasinya, maka pabrik tersebut diproyeksikan memproduksi 1,8 juta ton susu per tahun.

"Ini merupakan perusahaan terbesar dalam memproduksi susu, kalau investasinya lancar, 3-5 tahun target produksinya 1,8 juta ton," katanya.

Amran menilai, kebutuhan susu secara nasional masih membutuhkan impor hingga 3,7 juta ton per tahun. Jika investor Vietnam selesai memproduksi susu, maka hal itu bisa mengurangi volume impor hingga separuhnya.

Dia pun menegaskan, tujuan dari investasi ini untuk menyejahterakan petani, menekan impor, membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan mengurangi kemiskinan. Dia pun meminta masyarakat mendukung terobosan ini.

"Kepada masyarakat Poso, masyarakat Sulawesi Tengah agar mengawal dengan baik. Perusahaan ini sudah memiliki cabang di Amerika, New Zealand, Rusia, Australia, perusahaan ini perlu kita sambut dengan baik," katanya.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE