ECONOMICS

Isu Krisis 1998 Kembali Mencuat, Ini Respons Wamenkeu

Anggie Ariesta 25/05/2026 13:52 WIB

Juda Agung membantah anggapan bahwa perekonomian Indonesia berada di ambang krisis finansial seperti yang terjadi pada 1997-1998.

Isu Krisis 1998 Kembali Mencuat, Ini Respons Wamenkeu (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung membantah anggapan bahwa perekonomian Indonesia berada di ambang krisis finansial seperti yang terjadi pada 1997-1998. 

Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini masih jauh lebih kuat dan stabil. Di mana berbagai indikator makroekonomi masih menunjukkan kinerja positif di tengah ketidakpastian global. 

Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat di atas 5,6 persen yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga serta percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun.

"Banyak kalangan baik di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97-98. Kalau melihat angka-angka tadi, jauh dari situasi krisis," ujar Juda dalam forum Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Dia menjelaskan, daya beli masyarakat masih relatif terjaga sehingga menopang konsumsi domestik sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. 

Selain itu, realisasi belanja pemerintah yang lebih agresif pada awal tahun turut membantu menjaga aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Dari sisi stabilitas harga, Juda menyebut tingkat inflasi Indonesia masih berada dalam rentang aman. Hingga April 2026, inflasi tercatat sebesar 2,42 persen atau masih terkendali di tengah gejolak ekonomi global dan tekanan harga komoditas internasional.

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dinilai tetap solid. Hingga April 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp918 triliun atau tumbuh 13,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan penerimaan tersebut terutama didorong oleh kinerja perpajakan yang meningkat 16,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara dari sisi belanja, pemerintah mencatat pertumbuhan belanja negara sebesar 34,3 persen guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan mendukung aktivitas masyarakat di tingkat akar rumput.

Meski belanja negara meningkat cukup signifikan, Juda menegaskan kondisi fiskal masih terjaga. Defisit APBN hingga April 2026 tercatat sebesar 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), membaik dibanding posisi Maret 2026 yang mencapai 0,92 persen.

“Ini semua menunjukkan bahwa APBN kita ekspansif tetapi masih terukur. Jadi memang di dalam situasi global yang tidak mudah, kita harus menjaga dua-duanya,” kata Juda.

(DESI ANGRIANI)

SHARE