Kadin Harap BUMN Tekstil Bisa Atasi Banjir Impor hingga Perkuat Daya Saing Industri
Kadin menilai pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri tekstil jika memang benar-benar diarahkan untuk mengatasi banjirnya produk impor.
IDXChannel – Wakil Ketua Umum bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Saleh Husin, menyambut baik langkah pemerintah membentuk BUMN tekstil melalui BPI Danantara.
Menurut dia, pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri nasional jika memang benar-benar diarahkan untuk memperbaiki masalah mendasar yang selama ini membuat industri tekstil tertekan.
Salah satu masalah utama dalam industri tekstil yaitu banjirnya produk impor, baik yang legal maupun ilegal. Hal itu membuat produk dalam negeri kalah bersaing, terutama dari sisi harga.
“Dengan skala besar dan dukungan negara, BUMN tekstil bisa menjadi penopang produksi dalam negeri, menjaga pasokan bahan baku lokal, dan menekan biaya produksi melalui efisiensi energi dan teknologi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).
Selain itu, BUMN tekstil bisa menjadi contoh penerapan mesin modern, penggunaan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif.
“Jika ini berhasil, maka industri tekstil tidak lagi dipandang sebagai sunset industry, tetapi sebagai industri yang ‘berubah bentuk’, tidak lagi hanya mengandalkan upah tenaga kerja murah, melainkan efisiensi, kualitas, dan kepastian pasar domestik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Saleh mengatakan BUMN tekstil sebaiknya difokuskan untuk berinvestasi di bagian hulu dan intermediate rantai industri tekstil, seperti produksi serat sintetis, benang, dan kain.
Dia beralasan, banyak pabrik garmen yang selama ini bergantung pada bahan baku impor karena pasokan dalam negeri terbatas atau mahal. Akibatnya, ketika impor dibanjiri produk murah, industri lokal semakin tertekan.
Selain itu, BUMN tekstil didorong untuk investasi pada mesin modern dan tekstil khusus, misalnya untuk kebutuhan kesehatan, otomotif, atau bahan industri. Mennurut dia, hal itu lebih menjanjikan dibandingkan hanya memproduksi pakaian jadi massal.
“Segmen ini tidak terlalu sensitif terhadap harga murah dari impor ilegal dan lebih menekankan kualitas serta spesifikasi. Dengan arah ini, industri tekstil bisa keluar dari citra sunset industry yang identik dengan persaingan harga murah dan margin tipis,” kata Saleh.
Dengan upaya-upaya tersebut, Saleh mengatakan ukuran keberhasilan BUMN tekstil tidak semata-mata diukur dari untung besar dalam waktu singkat. Indikator yang lebih realistis antara lain berkurangnya impor bahan baku tekstil, meningkatnya penggunaan produk tekstil dalam negeri, serta naiknya produktivitas tenaga kerja karena mesin yang lebih modern dan pelatihan yang lebih baik.
Indikator lain yang penting dalam kesukesan BUMN tekstil yaitu biaya energi yang lebih terkendali dan berkelanjutan, sehingga pabrik tidak lagi kalah bersaing hanya karena listrik atau gas mahal.
“Jika BUMN tekstil mampu menjadi penopang bagi IKM, misalnya dengan menyediakan bahan baku yang stabil dan berkualitas, maka perannya akan terasa nyata bagi industri nasional. Dalam konteks ini, keberhasilan berarti industri tekstil tidak ‘mati, tetapi bertransformasi menjadi lebih efisien, modern, dan tahan terhadap guncangan impor dan tekanan global,” tuturnya.
(Febrina Ratna Iskana)