ECONOMICS

Kemenperin Fokus Penguatan Industri Kendaraan Niaga Buatan Lokal Kuasai Pasar Domestik

Tim IDXChannel 09/04/2026 13:35 WIB

Kemenperin terus mendorong peningkatan daya saing industri kendaraan niaga dalam negeri sebagai salah satu penopang utama sistem logistik dan distribusi barang.

Kemenperin Fokus Penguatan Industri Kendaraan Niaga Buatan Lokal Kuasai Pasar Domestik. (Foto iNews Media Group)

IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan daya saing industri kendaraan niaga dalam negeri sebagai salah satu penopang utama sistem logistik dan distribusi barang di Indonesia. Upaya ini juga sejalan dengan peran industri alat transportasi sebagai subsektor strategis yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko S A Cahyanto menyampaikan, sektor industri alat transportasi terus memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

“Sepanjang 2025, kontribusi sektor industri alat transportasi mencapai 1,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional,” ujarnya dalam sambutan mewakili Menteri Perindustrian pada pembukaan Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo 2026 di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Dia menjelaskan, kontribusi tersebut semakin diperkuat oleh subsektor perdagangan mobil, sepeda motor, serta jasa reparasinya yang mencapai 2,02 persen terhadap PDB nasional.

“Kinerja ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan distribusi barang, layanan purna jual, serta peremajaan armada kendaraan niaga di berbagai sektor usaha,” ujar Eko.
 
Dari sisi permintaan, sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 8,78 persen pada 2025. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan terhadap kendaraan niaga yang efisien dan andal guna mendukung sistem logistik nasional.

“Dalam konteks inilah, penyelenggaraan GIICOMVEC 2026 menjadi sangat relevan dan strategis sebagai platform yang menghadirkan berbagai solusi kendaraan niaga untuk menjawab kebutuhan logistik, distribusi, dan transportasi nasional yang terus meningkat,” kata dia.

Lebih dari itu, GIICOMVEC 2026 diharapkan juga dapat memperkuat posisi industri kendaraan niaga Indonesia dalam rantai nilai regional dan global.
 
Meski demikian, Kemenperin mencermati sejumlah tantangan struktural yang perlu segera ditangani. Berdasarkan data Gaikindo, produksi kendaraan niaga pada 2025 turun 3,5 persen menjadi 164 ribu unit dari sekitar 170 ribu unit pada 2024. Penurunan ini turut menekan tingkat utilisasi industri menjadi sekitar 58 persen, di bawah level efisiensi.
 
Selain itu, dalam dua tahun terakhir mulai terlihat ketidakseimbangan antara produksi dalam negeri dan penjualan nasional. Pada 2025 tercatat selisih sekitar 4.000 unit, di mana kebutuhan pasar domestik belum sepenuhnya dipenuhi produksi lokal dan sebagian dipasok dari impor.
 
“Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan pasokan domestik yang harus segera direspons melalui penguatan struktur industri, peningkatan efisiensi produksi, serta optimalisasi kapasitas terpasang,” ujar Eko.
 
Sejalan dangan upaya tersebut, Kemenperin terus mendorong implementasi kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (Zero ODOL) guna menciptakan sistem logistik yang lebih aman dan efisien. Dukungan dilakukan melalui penguatan standar teknis kendaraan, percepatan sertifikasi, serta integrasi data kendaraan dalam sistem nasional.

Kemenperin juga menyoroti praktik penjualan kendaraan yang tidak sesuai ketentuan, seperti transaksi tanpa dokumen resmi, yang berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah di sektor pembiayaan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperbaiki tata kelola pembiayaan.

Selain itu, peredaran truk impor tanpa proses homologasi dan diduga belum memenuhi standar emisi Euro 4 turut menjadi perhatian. "Kondisi ini dinilai dapat memicu persaingan usaha yang tidak sehat sekaligus menghambat upaya pengendalian pencemaran udara," ujar dia.

Dalam konteks tersebut, GIICOMVEC 2026 dinilai semakin relevan sebagai platform business-to-business yang mempertemukan pelaku industri, pengguna, dan pemangku kepentingan. Ajang ini diikuti oleh 14 merek kendaraan komersial dan lebih dari 35 industri pendukung.

“GIICOMVEC bukan hanya ajang promosi, tetapi juga ruang konsolidasi untuk memperkuat sinergi antara produksi, pembiayaan, dan kebijakan,” ujar Eko.

Kemenperin berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, dan asosiasi dapat terus diperkuat guna meningkatkan efisiensi, memperkuat struktur industri, serta mendorong pengembangan teknologi kendaraan komersial yang berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyebut kendaraan komersial memiliki peran vital dalam mendukung distribusi nasional.

“Truk dan bus merupakan urat nadi yang menghubungkan pusat produksi dengan pasar, memastikan distribusi barang tetap terjaga, serta menjadi motor penggerak mobilitas publik. Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan kendaraan komersial yang tangguh, efisien, dan mengadopsi teknologi masa depan,” ujarnya.

Dia menambahkan, kinerja ekspor industri otomotif Indonesia pada tahun 2025 mencatat capaian positif dengan total ekspor kendaraan utuh (CBU) mencapai 518.212 unit atau meningkat 9,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, kendaraan komersial menyumbang 20.326 unit, menunjukkan bahwa produk Indonesia semakin diakui di pasar global.

Putu juga menegaskan GIICOMVEC 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan pelaku industri dengan pembeli profesional, baik domestik maupun internasional.

“Kami menargetkan lebih dari 11 ribu trade visitors dan berharap ajang ini membuka peluang yang lebih luas bagi produk kendaraan komersial Indonesia di pasar global,” katanya.

Penulis: Nasywa Salsabila

(Dhera Arizona)

SHARE