ECONOMICS

Kementan: 75 Persen Kebutuhan Susu Nasional Masih Dipenuhi dari Impor

Tangguh Yudha 02/06/2026 16:57 WIB

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah serta produktivitas peternak.

Kementan: 75 Persen Kebutuhan Susu Nasional Masih Dipenuhi dari Impor. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat produksi susu dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan nasional. Sementara 75 persen sisanya masih bergantung pada impor.

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah serta produktivitas peternak. 

"Ini juga yang menjadi program kita bersama bagaimana meningkatkan jumlah populasi sapi perah di dalam negeri dan yang kemudian peningkatan produktifitasnya," ujar Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, dalam konferensi pers Peringatan Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat pada Selasa (2/6/2026).

Saat ini, produktivitas sapi perah di Indonesia masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari.

Makmun menargetkan produktivitas tersebut dapat meningkat menjadi di atas 20 liter per hari, bahkan mencapai 25 liter per hari seperti di sejumlah negara produsen susu lainnya.

Selain itu, pemerintah juga fokus pada peningkatan kesehatan ternak melalui pengendalian penyakit, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kementerian Pertanian saat ini menyediakan vaksin PMK untuk sapi perah secara penuh guna menjaga kesehatan ternak dan mendukung peningkatan produksi susu nasional.

"Dan sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK dan kita berharap dengan begitu teman-teman peternak terus meningkatkan produksinya di lapangan," kata dia.

Tingkat Konsumsi Masih Rendah

Selain produksi yang belum maksimal, konsumsi susu nasional juga masih tergolong rendah. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria mengungkapkan konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia pada 2022 baru mencapai 17,76 liter per tahun.

Angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga sekalipun. Malaysia mencatat konsumsi susu sebesar 42,49 liter per kapita per tahun, sementara Singapura mencapai 46,1 liter, dan Vietnam sebesar 37,21 liter per kapita per tahun.

"Konsumsi susu di Indonesia ini masih cukup rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya," kata Merrijantij.

Meski demikian, dia menjelaskan rendahnya konsumsi susu nasional justru membuka peluang bagi industri pengolahan susu untuk terus berkembang. Saat ini, tingkat utilisasi industri pengolahan susu masih berada di kisaran 72 persen, sehingga masih tersedia ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi.

"Jadi masih ada ruang gerak untuk peningkatan kapasitas di industri untuk memenuhi kebutuhan dalam meningkatkan konsumsi susu," ujar dia.

Merrijantij menegaskan Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri mendukung berbagai upaya peningkatan konsumsi susu nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Selain itu, pemerintah juga melihat adanya peluang peningkatan pasokan susu untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, dia mengakui masih terdapat tantangan dalam pemenuhan kebutuhan susu program tersebut.

"Kami menyadari ini masih ada ketertinggalan dalam suplainya mengingat memang selama ini kapasitas filling unit untuk volume yang ditetapkan di MBG ini masih belum sesuai dengan harapan," ujarnya.

(NIA DEVIYANA)

SHARE