ECONOMICS

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Produksi Industri RI

Iqbal Dwi Purnama 18/03/2026 17:51 WIB

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mulai memicu lonjakan harga energi global yang berpotensi menekan kinerja industri ekspor Indonesia.

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Produksi Industri RI. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Eskalasi konflik Timur Tengah mulai memicu lonjakan harga energi global yang berpotensi menekan kinerja industri ekspor Indonesia, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor dan energi intensif.

Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketidakpastian geopolitik diperkirakan mendorong peningkatan biaya produksi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, petrokimia, hingga logam dasar. Kondisi ini berisiko menggerus margin pelaku usaha, terutama di tengah potensi perlambatan permintaan global.

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani mengatakan, dampak konflik Timur Tengah terhadap Indonesia memang tidak besar secara langsung dari sisi perdagangan, namun tekanan melalui jalur energi dan logistik tidak dapat dihindari.

"Kami melihat risiko utama justru berasal dari kenaikan harga energi global dan gangguan pada jalur distribusi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi industri ekspor," ujar Rini dalam keterangan resmi, Rabu (18/3/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indonesia Eximbank Institute, ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Sementara impor dari kawasan tersebut sekitar 3,9 persen, yang sebagian besar berupa komoditas energi.

Meski eksposur langsung relatif kecil, kawasan Timur Tengah memiliki peran krusial dalam sistem energi global. Lebih dari 30 persen produksi minyak dunia berasal dari kawasan ini, dengan sekitar 20–30 persen perdagangan minyak global melewati jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dan biaya logistik secara cepat di pasar global.

Bagi Indonesia, dampak kenaikan harga energi juga terasa melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang mengandalkan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Dengan demikian, gangguan pasokan di kawasan tersebut tetap akan berdampak pada harga energi domestik.

Selain tekanan biaya, volatilitas pasar keuangan global juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri dalam negeri.

Kondisi ini diperkirakan akan paling dirasakan oleh sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Di tengah kenaikan biaya input, pelaku industri juga dihadapkan pada potensi penurunan permintaan dari negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan, yang juga terdampak kenaikan biaya energi.

Namun demikian, di tengah tekanan tersebut, sejumlah komoditas unggulan Indonesia justru berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga energi global. Komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) diperkirakan mengalami penguatan harga, sehingga dapat menjadi penopang kinerja ekspor dalam jangka pendek.

“Meski ada tekanan pada sektor industri, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat memberikan bantalan bagi ekspor Indonesia,” kata Rini.

Jika ketegangan geopolitik berlanjut, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran USD85 hingga USD120 per barel, jauh di atas rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar USD60 per barel.

Dalam kondisi tersebut, keseimbangan antara tekanan biaya industri dan peluang dari kenaikan harga komoditas akan menjadi faktor penentu kinerja ekspor Indonesia ke depan.

Indonesia Eximbank Institute memperkirakan ekspor Indonesia masih dapat tumbuh pada kisaran 4–5 persen pada 2026, meskipun dibayangi ketidakpastian global. Pertumbuhan tersebut berpotensi meningkat menjadi 5–6 persen pada 2027, seiring dengan harapan meredanya tensi geopolitik dan pulihnya permintaan global.

(NIA DEVIYANA)

SHARE