Makanan dan Minuman RI Mejeng di Kanada, Catat Potensi Transaksi Rp346 Miliar
Tingginya potensi transaksi tersebut menunjukkan bahwa produk Indonesia memiliki daya saing dan mampu memenuhi preferensi pasar Kanada yang terus berkembang.
IDXChannel - Produk makanan dan minuman Indonesia mejeng di ajang Salon International de l'Alimentation (SIAL) Kanada 2026. Event yang digelar tiga hari ini membawa 10 perusahaan asal Indonesia.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, produk makanan dan minuman Indonesia meraih potensi transaksi lebih dari USD20 juta atau sekitar Rp346,44 miliar.
Duta Besar RI untuk Kanada Muhsin Syihab mengatakan, tingginya potensi transaksi tersebut menunjukkan bahwa produk Indonesia memiliki daya saing dan mampu memenuhi preferensi pasar Kanada yang terus berkembang.
"Kanada merupakan pasar yang menjanjikan dan modern di mana konsumen makin menuntut produk berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan inovatif," kata Muhsin Syihab, Kamis (7/5/2026).
"Produk Indonesia, mulai dari kopi speciality, rempah alami hingga produk perikanan dan makanan olahan, berada pada posisi yang baik untuk memenuhi preferensi tersebut," lanjutnya.
Dia menambahkan, produk-produk yang dipamerkan antara lain kopi dan kakao, makanan olahan, rempah, bumbu, produk berbasis singkong, makanan ringan, serta produk perikanan.
"Keikutsertaan ini bertujuan untuk memperkuat promosi produk makanan dan minuman Indonesia sekaligus memperluas penetrasi pasar di Kanada dan kawasan Amerika Utara," kata dia.
Sementara itu, Atase Perdagangan RI di Ottawa, Mahdewi Silky mengatakan bahwa tingginya minat terhadap produk Indonesia di pasar Kanada perlu didukung oleh penguatan akses pasar yang lebih luas.
"Dalam berbagai interaksi selama pameran, baik pelaku usaha Indonesia maupun mitra Kanada menyampaikan harapan terhadap percepatan ratifikasi dan implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-CA CEPA)," kata Mahdewi Silky.
"Perjanjian tersebut diharapkan dapat memberikan penurunan atau penghapusan tarif, memperkuat kepastian akses pasar, serta menciptakan kerangka kerja yang lebih kondusif," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)