ECONOMICS

Pelaku Industri Buka Suara soal Tantangan Global hingga AI Warnai Persaingan di 2026

Tim IDXChannel 27/01/2026 20:08 WIB

Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga menata ulang strategi bisnis jangka menengah dan panjang.

Pelaku Industri Buka Suara soal Tantangan Global hingga AI Warnai Persaingan di 2026. (Foto Nasywa Salsabila)

IDXChannel – Tekanan global, percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta perubahan lansekap persaingan akan menjadi faktor utama yang membentuk arah industri Indonesia pada 2026. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga menata ulang strategi bisnis jangka menengah dan panjang.

Merespons dinamika tersebut, MCorp menggelar forum Marketing Outlook 2026: Industry Perspective, yang mempertemukan asosiasi industri untuk membahas arah industri Indonesia pada 2026, mulai dari tantangan struktural hingga peluang strategis.

Diskusi dibuka oleh Group CEO MCorp Taufik, dan menghadirkan perwakilan dari berbagai sektor, seperti perbankan syariah, ritel global, teknologi digital, logistik, serta manufaktur otomotif roda dua.

“Tantangan industri ke depan tidak lagi berdiri sendiri per sektor karena perubahan terjadi lintas industri, semakin cepat, dan menuntut pelaku usaha memahami arah besar industri agar strategi yang dijalankan tetap relevan,” ujarnya di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Dalam diskusi tersebut, pelaku industri menilai arah industri 2026 akan ditandai oleh tekanan efisiensi, perubahan perilaku pasar, serta meningkatnya pengaruh faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan perkembangan teknologi, khususnya AI. Transformasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai digitalisasi, melainkan penataan ulang strategi, operasional, dan tata kelola bisnis.

Dari sektor perbankan syariah, Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Herbudhi S Tomo menilai industri perbankan syariah relatif stabil memasuki 2026, dengan tantangan utama pada penguatan fundamental bisnis di tengah dinamika ekonomi dan regulasi.

“Tantangan perbankan syariah bukan pada keberlanjutan industri, tetapi bagaimana memperkuat fundamental melalui tata kelola yang solid, inovasi produk yang relevan, serta pemanfaatan teknologi digital secara tepat,” ujarnya.

Sementara itu, dari sektor teknologi digital, CEO PT Cipta Teknologi International sekaligus perwakilan Indonesian Digital Association (IDA) Yogi Triharso menyebut percepatan adopsi AI dan dinamika regulasi akan semakin memengaruhi arah industri.

“Generative AI tidak hanya mengubah user experience, tetapi juga menantang industri membangun model monetisasi yang berkelanjutan. AI harus dilihat sebagai enabler yang meningkatkan kapasitas manusia,” kata Yogi.

Dari sektor logistik, Wakil Ketua Umum Bidang Maritim & Pelabuhan DPP ALFI/ILFA Harry Sutanto menilai perubahan pola perdagangan global dan tekanan geopolitik menuntut industri logistik lebih fleksibel, efisien, dan kolaboratif agar tetap kompetitif.

Sedangkan dari sektor otomotif roda dua, Head of Commercial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala menyampaikan, persaingan industri sepeda motor pada 2026 akan semakin ketat seiring masuknya pemain baru. Menurutnya, fokus industri ke depan tidak hanya pada volume penjualan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, MCorp juga menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) Program MBA Online Entrepreneurial Marketing bersama Asia e University (AeU) untuk memperkuat kapabilitas kepemimpinan dan pemasaran berbasis kewirausahaan.

Ke depan, forum ini akan digelar secara rutin setiap bulan sebagai wadah berkelanjutan untuk membaca dinamika industri, mempertemukan perspektif lintas sektor, serta menghadirkan insight strategis yang relevan dengan perkembangan bisnis dan ekonomi.

Penulis: Nasywa Salsabila

(Dhera Arizona)

SHARE