ECONOMICS

Pemasok SpaceX Jadi Investor Strategis Proyek HPAL di Sulawesi Tengah

Rahmat Fiansyah 02/01/2026 14:08 WIB

Sphere Corp resmi menjadi investor strategis dalam proyek Excelsior Nickel Cobalt (ENC) berteknologi high-pressure acid leach (HPAL) di Sulawesi Tengah.

Sphere Corp resmi menjadi investor strategis dalam proyek Excelsior Nickel Cobalt (ENC) berteknologi HPAL di Sulawesi Tengah. (Foto: Ist)

IDXChannel - Perusahaan asal Korea Selatan (Korsel), Sphere Corp resmi menjadi investor strategis dalam proyek Excelsior Nickel Cobalt (ENC) berteknologi high-pressure acid leach (HPAL) di Sulawesi Tengah. Sphere merupakan pemasok utama material logam untuk perusahaan ruang angkasa asal Amerika Serikat (AS), SpaceX.

Kabar tersebut diumumkan langsung oleh Nickel Industries Limited, perusahaan Australia yang menguasai 44 persen dalam proyek tersebut. Sphere mengakuisisi 10 persen saham ENC dari Decent Resource asal Hong Kong dengan nilai USD2,4 miliar atau setara dengan Rp40 triliun.

Sphere merupakan produsen material paduan khusus yang tercatat di bursa KOSDAQ Korea Selatan dan dikenal sebagai salah satu pemasok utama SpaceX. Perusahaan tersebut telah menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan SpaceX senilai USD1 miliar untuk periode 10 tahun.

Selain akuisisi saham, Sphere juga berkomitmen menyerap seluruh porsi 10 persen produksi nikel ENC dalam bentuk katoda. Perusahaan itu juga menandatangani perjanjian offtake tambahan dengan harga pasar untuk volume produksi di luar porsi kepemilikannya.

Proyek ENC yang berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) itu akan menjadi fasilitas HPAL pertama di dunia yang mampu memproduksi tiga produk nikel kelas satu, yakni mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan katoda nikel.

Managing Director Nickel Industries, Justin Werner mengatakan masuknya Sphere mencerminkan kualitas produk ENC serta daya saing proyek tersebut di pasar global. 

"Keputusan Sphere, sebagai pemasok utama SpaceX, untuk berinvestasi di ENC menunjukkan kualitas katoda nikel kami dan standar keberlanjutan yang kami bangun," ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (2/1/2026).

Dia menambahkan, kesepakatan ini menjadi perjanjian offtake pertama ENC untuk pasar Barat, khususnya sektor kedirgantaraan yang memiliki standar kualitas tinggi. “Industri ini diperkirakan tumbuh sekitar 8 persen secara CAGR hingga 2030,” katanya.

Saham Nickel Industries tercatat melonjak hingga 9 persen dan menjadi salah satu penguat utama indeks S&P/ASX 200. Sentimen positif ini juga didorong oleh rencana Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia untuk memangkas kuota produksi tambang guna menopang harga komoditas.

Nickel Industries memperkirakan pendanaan transaksi tersebut akan rampung pada awal kuartal I-2026. Proyek ENC sendiri diharapkan menjadi langkah transformasional perusahaan dalam mendukung rantai pasok baterai kendaraan listrik dan industri teknologi global.

>

(Rahmat Fiansyah)

SHARE