ECONOMICS

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga BBM Nonsubsidi Usai Turunnya Harga Minyak Dunia

Felldy Utama 16/06/2026 17:30 WIB

Harga minyak turun ke level terendah baru dalam tiga bulan pada Selasa (16/6/2026) seiring meningkatnya ekspektasi mengalirnya pasokan melalui Selat Hormuz.

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga BBM Nonsubsidi Usai Turunnya Harga Minyak Dunia. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, meminta pemerintah mengevaluasi harga BBM nonsubsidi pasca turunnya harga minyak dunia menyusul kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran dan segera dibukanya kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz pada Jumat mendatang.

"Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," ucap Mufti kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).

Mufti menilai, harga BBM sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Setiap kenaikan BBM selalu berdampak ke tarif transportasi, biaya logistik, harga pangan, biaya produksi UMKM, hingga pada akhirnya daya beli masyarakat.

"Karena itu pemerintah dan Pertamina harus segera mengevaluasi harga BBM secara transparan. Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda," ujar Mufti.

Harga minyak turun ke level terendah baru dalam tiga bulan pada Selasa (16/6/2026) seiring meningkatnya ekspektasi mengalirnya pasokan melalui Selat Hormuz.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun USD1,44 atau 1,7 persen menjadi USD81,73 per barel, level terendah sejak 10 Maret, pada pukul 09.06 waktu setempat.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USSD1,55 atau 1,9 persen menjadi USD79,20 per barel, juga level terendah sejak 10 Maret.

Harga minyak sebelumnya sudah turun hampir 5 persen pada Senin ke level penutupan terendah sejak 4 Maret setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, meskipun rincian lengkapnya belum dirilis.

Selat Hormuz memiliki peran strategis karena menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG). Gangguan di kawasan itu membuat harga energi melonjak tajam selama konflik berlangsung.

Sebelum perang pecah, harga minyak Brent berada di kisaran USD70 per barel. Namun, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sempat mendorong harga hingga mendekati USD120 per barel.

(NIA DEVIYANA)

SHARE