Pengamat Sarankan Ini untuk Capai Target Pembangunan PLTS hingga 100 GW
Target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan pemerintah dinilai sebagai langkah ambisius.
IDXChannel — Target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan pemerintah dinilai sebagai langkah ambisius.
Ketua Pusat Usaha & Pelaksana Kegiatan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Bakti S Luddin, menyebut target tersebut sebagai dorongan besar bagi industri, sekaligus ujian kesiapan nasional dari sisi kapasitas hingga infrastruktur.
“Ini satu motivasi, satu challenge baru. Memang kelihatannya bombastis, tapi harus kita turunkan jadi langkah-langkah konkret agar bisa terjadi,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, dikutip Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, tantangan utama tidak hanya terletak pada besarnya kapasitas yang ingin dicapai, tetapi juga pada bagaimana sistem kelistrikan mampu mengakomodasi karakter energi surya yang tidak stabil sepanjang hari. Di Indonesia, produksi listrik dari matahari umumnya hanya optimal selama empat hingga lima jam.
Untuk mengatasi hal tersebut, pengembangan PLTS kini tidak bisa dilepaskan dari penggunaan Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini memungkinkan energi yang dihasilkan pada siang hari disimpan dan digunakan kembali pada malam hari.
“Sekarang matahari sudah digabung dengan BESS. Energi siang disimpan, lalu dipakai malam. Tapi pertanyaannya, berapa lama penyimpanannya? Empat jam, atau lebih? Itu menentukan kapasitas yang harus dibangun,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan integrasi antara PLTS dan BESS menjadi salah satu aspek paling menantang, karena berkaitan langsung dengan investasi, teknologi, serta perencanaan sistem yang matang.
Selain aspek teknologi, tantangan lain juga muncul dari sisi infrastruktur dan lokasi pembangunan. Di wilayah padat seperti Jawa, penggunaan lahan untuk PLTS skala besar dinilai kurang efisien karena tingginya harga tanah. Sebagai solusi, pemanfaatan atap bangunan (rooftop solar) dinilai lebih relevan.
Sementara itu, di luar Jawa, pembangunan PLTS berbasis lahan (ground-mounted) masih memiliki peluang lebih besar, meski tetap memerlukan kesiapan jaringan distribusi dan transmisi listrik.
“Kalau di Jawa, tanah mahal, lebih baik rooftop. Di luar Jawa masih bisa ground, ada 10 mega, 20 mega, dan seterusnya,” pungkasnya. (Wahyu Dwi Anggoro)