Percepat Investasi, KEK Industropolis Maksimalkan Potensi Kolaborasi dengan Jepang
hal ini merupakan wujud dari visi Proyek Strategis Nasional yang melampaui konsep kawasan industri konvensional.
IDXChannel - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang terus berupaya memperkuat bisnis dengan senantiasa memaksimalkan potensi investasi yang bisa digandeng.
Beragam sektor industri mulai dijajaki, termasuk di antaranya sektor industri teknologi tinggi (high-tech industry), dengan membuka peluang terhadap sejumlah potensi kolaborasi bersama para pelaku industri global di sektor tersebut.
"Caranya adalah dengan memperkenalkan potensi investasi guna memikat para pelaku global di (high-tech) industri ini, sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis jangka panjang kami," Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, dalam keterangan resminya, Jumat (22/5/2026).
Upaya perkenalan itulah, yang menurut Indri menjadi dasar atas berpartisipasinya KEK Industripolis Batang dalam Investment Business Forum Indonesia–Japan, yang digelar secara kolaboratif bersama KBRI Tokyo, Bank Indonesia (BI) Tokyo, IIPC Tokyo (BKPM), dan JETRO di Bellesalle Kanda, Tokyo.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, KEK Industripolis Batang juga melakukan kunjungan komparatif ke Tsukuba Science City, guna mengadopsi standar internasional demi mewujudkan kawasan industri masa depan yang berkelanjutan di Indonesia.
Menurut Indri, langkah strategis sengaja digagas untuk mengkaji keberhasilan integrasi antara kawasan industri, pusat riset, dan lingkungan hunian berkualitas tinggi dengan tata kota yang berkelanjutan.
Melalui benchmarking ini, direncanakan sistem perencanaan kota yang mampu mendukung daya tarik serta retensi talenta terampil, seperti para engineer, peneliti, dan keluarga mereka.
"Dengan demikian, KEK Industropolis Batang diharapkan dapat berkembang secara lebih menyeluruh, tidak hanya sebagai pusat kegiatan industri dan tempat bekerja, namun juga sebagai kawasan hunian yang ideal, melalui penerapan ruang terbuka hijau, sistem mobilitas yang efisien, serta pengelolaan energi dan lingkungan yang terintegrasi," ujar Indri.
Indri menjelaskan, hal ini merupakan wujud dari visi Proyek Strategis Nasional yang melampaui konsep kawasan industri konvensional, di mana KEK Industropolis Batang berkomitmen untuk bertransformasi menjadi pusat inovasi berkelanjutan.
Langkah ini disebutnya sejalan dengan target investasi forum yang secara khusus membidik sektor-sektor masa depan, meliputi ekosistem kendaraan listrik (EV Ecosystem), peralatan medis (Medical Device), elektronik, hingga energi terbarukan (Renewable Energy).
"Keunggulan kompetitif utama kawasan ini terletak pada kesiapan infrastruktur dan ekosistem terpadu yang telah dipersiapkan secara komprehensif untuk memenuhi kebutuhan investor global," ujar Indri.
Indri juga menekankan bahwa KEK Industropolis Batang tidak hanya sekadar menyediakan lahan industri siap pakai, melainkan mengintegrasikan tiga sektor utama sekaligus yaitu industrial & Processing, logistic & distribution, tourism.
Dengan fleksibilitas pengembangan serta penyediaan fasilitas penunjang modern, kawasan ini dirancang secara spesifik untuk memastikan efisiensi operasional tertinggi bagi rantai pasok global dan memberikan jaminan nilai tambah maksimal bagi investasi jangka panjang di Asia Tenggara.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Promosi Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) Tokyo, Cahyo Purnomo, menegaskan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang telah terjalin kuat selama lebih dari enam dekade, di mana Jepang secara konsisten menjadi salah satu mitra dagang terbesar sekaligus investor paling tepercaya bagi Indonesia.
"Pada 2025 saja, realisasi investasi langsung (FDI) Jepang mencapai USD3,12 miliar, sehingga total investasi dalam lima tahun terakhir melampaui USD18 miliar dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 13,2 persen," ujar Cahyo, dalam kesempatan yang sama.
Menurut Cahyo, ketahanan ekonomi Indonesia juga menunjukkan performa yang sangat resilien di tengah dinamika global, di mana pada triwulan I-2026 investasi langsung Indonesia tercatat mencapai USD30,2 miliar, atau tumbuh sebesar 18,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Cahyo juga menambahkan bahwa di bawah visi Presiden Prabowo menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar tujuh hingga delapan persen yang membutuhkan dukungan investasi baru sekitar USD814,4 miliar dalam lima tahun ke depan.
Momentum ini dinilai menjadi peluang strategis bagi pelaku industri teknologi tinggi Jepang untuk memperluas kolaborasi di Indonesia, tidak hanya dalam bentuk kemitraan bisnis konvensional, tetapi menuju genuine co-creation yang berkelanjutan.
"Pemerintah Indonesia terus memperkuat reformasi struktural melalui kemudahan perizinan berbasis risiko melalui OSS, insentif fiskal dan non-fiskal yang kompetitif, serta penguatan standar industri yang selaras dengan kerangka ESG global," ujar Cahyo.
Selain itu, pertumbuhan investasi hilirisasi bernilai tambah tinggi di Indonesia yang meningkat lebih dari 43 persen pada 2025, khususnya pada sektor mineral strategis, seperti nikel dan kobalt, juga membuka peluang besar bagi KEK Industropolis Batang untuk berkembang sebagai pusat rantai pasok regional Indo-Pasifik yang aman, terdiversifikasi, dan berkelanjutan melalui dukungan teknologi maju dari Jepang.
(taufan sukma)