ECONOMICS

Pertamina Buka Suara soal Nasib Dua Kapalnya yang Terjebak di Selat Hormuz

Dhera Arizona Pratiwi 03/03/2026 22:15 WIB

PT Pertamina (Persero) memastikan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz, dalam kondisi aman.

Pertamina Buka Suara soal Nasib Dua Kapalnya yang Terjebak di Selat Hormuz. (Foto Istimewa)

IDXChannel - PT Pertamina (Persero) memastikan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz, dalam kondisi aman. Demikian pula dengan para awak kapal yang berada di dalamnya.

"Jadi saat ini kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan dari para awak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana sampai dengan saat ini kondisi masih aman," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron saat ditemui di Gedung Pertamina, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).

Baron mengatakan, sebenarnya ada empat kapal Pertamina yang berada sekitar Selat Hormuz. Namun, dua kapal tanker lainnya berada di luar selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab tersebut.

"Untuk di Selat Hormuz memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana, ini ada empat (kapal), tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz, jadi saat ini kami terus memantau," katanya.

Dia menambahkan, Pertamina terus berkoordinasi dengan para stakeholder dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk terus memantau kondisi terkini kapal beserta awaknya.

"Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder baik dari Kementerian Luar Negeri maupun tiap pihak terkait yang bisa menyampaikan atau mengamankan aset kami dan para awak kapal yang berada di sana," Kata Baron.

Sebagai informasi, penutupan Selat Hormuz ini menjadi eskalasi terbaru sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu, hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Akibatnya, Iran membalas dendam dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer tentara AS, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi. Hizbullah, kelompok militer faksi Iran di Lebanon, juga mengatakan akan membela Iran dan membalas kematian Khamenei.

Mengutip Reuters dan Al Jazeera, pernyataan penutupan Selat Hormuz dan ancaman tembakan dikatakan seorang komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," ujar Penasihat Senior untuk Panglima Tertinggi IRGC, Ebrahim Jabbari, Selasa (3/3/2026).

Dia juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak. Bahkan, membuat harga minyak melambung tinggi hingga USD200 per barel, dari harga saat ini.

"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai USD200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabbari.

"Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka," ujarnya.

Selat Hormuz, terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewatinya.

Mengutip Administrasi Informasi Energi AS, Selat Hormuz membawa 21 juta barel minyak per hari. Gangguan apa pun di sana akan semakin mendorong harga minyak mentah melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi regional.

(Dhera Arizona)

SHARE