ECONOMICS

Proyek Whoosh Perlu Dievaluasi, Balik Modal Bisa Tembus 100 Tahun

Tangguh Yudha 23/02/2026 11:31 WIB

Whoosh kembali menjadi sorotan setelah adanya potensi kerugian yang dialami WIKA hingga Rp2,27 triliun.

Proyek Whoosh Perlu Dievaluasi, Balik Modal Bisa Tembus 100 Tahun (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh terus menjadi sorotan setelah muncul indikasi kerugian yang harus ditanggung oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang mencapai Rp4 triliun lebih. 

Kerugian tersebut, harus ditanggung PSBI yang merupakan pemegang 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC). 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti menilai, proyek kereta cepat yang diberi nama Whoosh itu perlu dievaluasi mendalam lantaran balik modal bisa sampai 100 tahun.

"Menurut saya semua proyek pengadaan fisik berpotensi menimbulkan dugaan korupsi, tidak hanya Whoosh, tapi yang lain-lain," katanya saat dihubungi pada Senin (23/2/2026).

Sekadar informasi, konsorsium PSBI merupakan gabungan dari sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau (KAI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN I. 

Ester menjelaskan, pengawasan terhadap pengelolaan KCIC dapat dilakukan dengan cara sederhana, yakni membandingkan kualitas barang atau hasil pekerjaan yang diterima dengan harga pasar yang berlaku. Langkah tersebut dinilai bisa menjadi indikator awal untuk mendeteksi adanya penyimpangan.

“Mudah ngeceknya, bandingkan saja dengan kualitas barang yang diterima dengan harga pasar yang ada,” lanjutnya.

Menurut Esther, strategi utama untuk meminimalkan potensi kerugian adalah melalui monitoring dan evaluasi proyek secara konsisten. Apabila ditemukan kejanggalan, maka harus diikuti dengan penegakan hukum.

Selain persoalan tata kelola, Esther juga menyoroti aspek pembiayaan proyek Whoosh. Dia menyebut, terdapat kesenjangan yang besar antara jumlah utang yang ditanggung pemerintah dengan potensi penerimaan dari operasional kereta cepat tersebut.

"Jumlah utang yang ditanggung pemerintah untuk Whoosh dan potensi penerimaan dari Whoosh ini gapnya sangatlah besar," ujar Esther.

Kondisi tersebut juga berdampak pada lamanya payback period atau balik modal. Berdasarkan perhitungannya, dengan tingkat okupansi Whoosh seperti saat ini, periode balik modal proyek membutuhkan waktu yang sangat lama.

"Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung sekitar lebih 100 tahun lebih dengan tingkat okupansi Whoosh seperti sekarang," ujar dia.

(DESI ANGRIANI)

SHARE