ECONOMICS

Purbaya Kembali Guyur Likuiditas Rp100 Triliun ke Perbankan

Anggie Ariesta 25/03/2026 16:03 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan telah menambah penempatan dana sebesar Rp100 triliun ke sistem perbankan.

Purbaya Kembali Guyur Likuiditas Rp100 Triliun ke Perbankan. (Foto iNews Media Group)

IDXChannel – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan telah menambah penempatan dana sebesar Rp100 triliun ke sistem perbankan sebagai respons atas meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi negara yang menjadi indikasi awal terjadinya pengetatan likuiditas.

Purbaya menegaskan, kementeriannya memantau pergerakan pasar keuangan secara harian dan tidak akan membiarkan sektor perbankan mengalami 'kekeringan' dana yang dapat memicu lonjakan suku bunga tajam.

“Kalau bond yield naik 0,1 persen saya sudah perhatikan. Naik 0,4 persen, pasti ada kekeringan likuiditas di bank. Saya cek, memang bank kekurangan,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Dengan tambahan terbaru ini, total dana pemerintah yang ditempatkan di perbankan kini mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp300 triliun, meningkat dari posisi sebelumnya sebesar Rp200 triliun.

Strategi ini diharapkan memberikan ruang bagi bank untuk mengelola dana secara lebih fleksibel, baik dengan menempatkannya di Bank Indonesia maupun membeli Surat Berharga Negara (SBN).

“Saya tambah lagi Rp100 triliun masuk ke sistem perekonomian. Kita jaga likuiditas dengan serius,” ujar Purbaya.

Menurut Purbaya, intervensi ini bertujuan untuk menekan kenaikan yield obligasi. Jika perbankan memiliki likuiditas yang cukup untuk membeli obligasi, maka harga surat utang akan terjaga dan imbal hasilnya bisa ditekan turun.

Berbeda dengan skema penempatan dana konvensional, penempatan dana kali ini dirancang lebih dinamis. Pemerintah memiliki otoritas untuk menarik kembali dana tersebut sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan kas negara atau perkembangan kondisi pasar.

Mengenai distribusinya, Purbaya menjelaskan, pada tahap awal, fokus penyaluran diberikan kepada Bank Milik Negara (Himbara) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Bank DKI disebutkan menerima alokasi sekitar Rp2 triliun dan bank swasta akan dipertimbangkan di tahap selanjutnya melalui proses seleksi yang ketat.

“Ini agak beda. Penempatannya fleksibel, bisa ditarik kapan saja. Pembagiannya saya lupa, tapi Bank DKI dapat sekitar Rp2 triliun,” kata dia.

Langkah preventif ini merupakan bagian dari manajemen kas negara yang proaktif. Purbaya menjamin pemerintah terus bersiaga untuk meredam gejolak pasar keuangan global yang berimbas pada pasar domestik.

“Kalau bank beli obligasi, yield bisa ditekan turun lagi. Paling tidak, tidak naik terlalu tinggi atau bunga melonjak tajam. Kita tidak diam. Kita pantau terus,” ujar dia.

(Dhera Arizona)

SHARE