Purbaya Lapor Prabowo, Bawa Daftar 10 Perusahaan yang Diduga Manipulasi Harga Ekspor CPO
Purbaya telah menyiapkan laporan berupa 10 perusahaan besar yang diduga melakukan under invoicing.
IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait 10 perusahaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang diduga melakukan manipulasi harga ekspor atau under invoicing.
"Ini (dokumen) jaga-jaga aja kalau biar kalau ditanya bisa jawab," kata Purbaya sambil menunjukkan dokumen yang dibawa setibanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Meski enggan membeberkan detail yang dilaporkan kepada Prabowo, Purbaya telah menyiapkan laporan berupa 10 perusahaan besar yang diduga melakukan under invoicing.
"Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga. Jadi kalau ditanya saya akan jawab," kata Purbaya sambil menunjukkan dokumen kepada awak media.
"Jadi ini ada 10 perusahaan besar, tiga (perusahaan) pengapalan, masing masing perusahaan saya random pilih," ujar dia.
Dia pun menilai praktik manipulasi harga terlihat jelas dalam transaksi ekspor, khususnya ke Amerika Serikat (AS).
"Mereka keliatan sekali melakukan manipulasi harga, ekspor ke Amerika misalnya (sambil baca dokumen). Jadi harganya di sini berapa itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS," katanya.
Purbaya mengatakan, perbedaan harga tersebut menyebabkan potensi kerugian bagi negara. "Jadi income-nya rendah kan di sini jadi saya rugi banyak," ujar dia.
Dia juga membeberkan contoh perbedaan nilai ekspor dan impor dalam dokumen yang dibawanya.
"Ada contohnya (baca dokumen), enggak mau sebut perusahaannya ya saya. Jadi ada dari Indonesia dikirim harganya USD2,6 juta impornya di sana USD4,2 juta jadi 57 persen bedanya," kata Purbaya.
"Ada yang lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya USD1,44 juta di sana USD4 jutaan berubah harga 200 persen, kita mau detensi kapal per kapal jadi itu yang saya laporin, kalau ditanya, kalau enggak (ditanya), ya enggak usah," katanya.
Purbaya menegaskan, temuan tersebut baru terkait sektor CPO dan akan dilanjutkan ke komoditas lainnya. "Ini 10 besar. Ini baru CPO nanti ada batu bara juga," ujar dia.
Saat ditanya terkait potensi kerugian negara, Purbaya menyebut nilainya bisa sangat besar jika ditarik ke belakang. "Kalau saya tarik berapa tahun ke belakang panen saya," katanya.
(Dhera Arizona)