ECONOMICS

Setahun Perang Rusia-Ukraina: Biaya Perang yang Tak Murah

Maulina Ulfa - Riset 24/02/2023 18:04 WIB

24 Februari 2022 adalah tanggal bersejarah global ketika Rusia melancarkan invasinya ke Ukraina.

Setahun Perang Rusia-Ukraina: Biaya Perang yang Tak Murah. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - 24 Februari 2022 adalah tanggal bersejarah global ketika Rusia melancarkan invasinya ke Ukraina. Dua negara di benua Eropa ini memang telah terlibat peperangan sejak lama.

Aneksasi ke wilayah Crimea pada 2014 menjadi spotlight konflik kedua negara mulai dikenal oleh dunia internasional.

Pada hari ini, perang Rusia-Ukraina telah memasuki usia satu tahun. Layaknya perang lainnya, perang antar kedua negara ini juga tidak murah.

Tak hanya kerugian ekonomi, perang ini juga menyebabkan kerugian kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur yang signifikan.

Uang dan Nyawa yang Hilang Akibat Perang

United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR) memverifikasi total 7.199 kematian warga sipil selama invasi Rusia ke Ukraina per 12 Februari 2023. Dari jumlah tersebut, 438 di antaranya adalah anak-anak.

Sebanyak 11.756 orang dilaporkan terluka. Namun, OHCHR menetapkan bahwa angka sebenarnya bisa lebih tinggi.

OHCHR memperkirakan jumlah kematian warga sipil, atau individu tak bersenjata, di Ukraina lebih dari 7,1 ribu sejak dimulainya perang pada 24 Februari 2022.

Korban tewas tertinggi tercatat pada Maret 2022, lebih dari 3,2 ribu. Angka kematian tentara dilaporkan oleh otoritas pemerintah Rusia dan Ukraina, namun angka tersebut tidak dapat diverifikasi pada saat ini.

Mengutip BBC, seorang jenderal senior AS memperkirakan bahwa sekitar 100.000 tentara Rusia dan 100.000 tentara Ukraina telah tewas atau terluka dalam perang ini.

Jenderal Mark Milley, ketua US Joint Chiefs of Staff, juga menyatakan bahwa sekitar 40.000 warga sipil tewas setelah terjebak dalam konflik tersebut.

Dari sisi materil, menurut investigasi Forbes, selama sembilan bulan invasi besar-besaran ke Ukraina, Rusia telah menghabiskan anggaran sebesar USD82 miliar untuk perang, yang merupakan seperempat dari anggaran tahunannya,.

Forbes menghitung Rusia menggunakan 10.000 hingga 50.000 peluru per hari dalam perang, dan harga rata-rata peluru kaliber Soviet adalah sekitar USD1.000.

Dampaknya, pengeluaran Rusia untuk persediaan artileri saja mencapi lebih dari USD5,5 miliar. Rusia juga telah menembakkan lebih dari 4.000 rudal ke Ukraina, di mana biaya rata-rata satu rudal Rusia adalah USD3 juta.

Rusia juga telah kehilangan 278 pesawat tempur, yang harganya rata-rata USD18 juta, dan 261 helikopter, dengan harga rata-rata USD10,4 juta. Total kerugian penerbangan Rusia mencapai USD8 miliar.

Di sisi Ukraina, negara ini banyak mengandalkan bantuan dari negara lain untuk membiayai perang, terutama negara-negara anggota NATO.

Baru-baru ini, presiden AS Joe Biden umumkan tambahan bantuan senilai USD500 juta dari Amerika Serikat untuk Ukraina, dalam kunjungan mendadaknya ke Kyiv pada Senin (20/2). Bantuan itu termasuk untuk peluru meriam howitzer, misil anti-tank, radar pengawas udara.

Sejak perang dimulai hingga awal 2023, pemerintahan Biden dan Kongres AS telah mengarahkan hampir lebih dari USD75 miliar bantuan ke Ukraina, yang mencakup dukungan kemanusiaan, keuangan, dan militer, menurut Kiel Institute for the World Economy, sebuah lembaga penelitian Jerman.

Tak hanya dari AS, Ukraina juga mendapat dukungan dari beberapa negara seperti dari Prancis, Inggris dan aliansi Barat lainnya.

Sebagian besar bantuan digunakan untuk menyediakan sistem senjata, pelatihan, dan intelijen yang dibutuhkan petinggi militer Ukraina untuk bertahan melawan Rusia, yang merupakan salah satu negara dengan dengan kekuatan militer terkuat dunia.

Banyak analis Barat mengatakan bantuan militer yang diberikan oleh AS dan sekutu lainnya telah memainkan peran penting dalam pertahanan dan serangan balik Ukraina terhadap Rusia. (ADF)

SHARE