ECONOMICS

Siap Genjot Eskpor, Pupuk Indonesia Pastikan Kebutuhan Domestik Tetap Prioritas Utama

Taufan Sukma Abdi Putra 19/04/2026 15:31 WIB

Pupuk Indonesia akan tetap menjalankan ekspor secara hati-hati, dengan terlebih dulu memastikan kebutuhan petani dalam negeri telah sepenuhnya terpenuhi.

Siap Genjot Eskpor, Pupuk Indonesia Pastikan Kebutuhan Domestik Tetap Prioritas Utama (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan kesiapakannya dalam mendukung rencana pemerintah untuk menggenjot potensi ekspor pupuk urea ke pasar global.

Meski demikian, holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang produksi pupuk tersebut juga memastikan bahwa aktivitas ekspor bakal dilakukan dengan tetap memprioritaskan pasokan pupuk untuk pasar dalam negeri.

"Kan memang arahan dari Kementerian Pertanian sudah jelas, bahwa kita baru akan ekspor saat kebutuhan dalam negeri sudah tercukupi," ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dalam keterangan resminya, Sabtu (19/4/2026).

Menurut Rahmad, Pupuk Indonesia saat ini telah sangat siap dalam memproduksi sekaligus menyiapkan pasokan untuk mulai memaksimalkan kinerja di pasar ekspor. Sebagai salah satu produsen urea terbesar di dunia, Pupuk Indonesia memiliki posisi strategis sebagai stabilisator pasokan urea global di tengah disrupsi rantai pasok pupuk.

Dengan dinamika global yang terjadi saat ini, Rahmad yakin bahwa kondisi tersebut justru bakal membuka ruang bagi Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar melalui ekspor, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional dan ketahanan pangan regional.

"Banyak orang berpikir bahwa di tengah gejolak global, posisi kita akan rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk, posisi kita bukan rentan, tapi justru bisa tampil sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Kita justru bisa bantu negara-negara lain yang membutuhkan pupuk," ujar Rahmad.

Hal ini sejalan dengan klaim Kementerian Pertanian bahwa sejauh ini sudah ada sedikitnya empat negara yang telah menyatakan minatnya untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia, sebagai solusi atas gangguan distribusi global akibat dinamika geopolitik di Selat Hormuz. Empat negara tersebut meliputi Australia, India, Filipina dan Brasil.

Namun demikian, dalam menjawab permintaan pasokan dari keempat negara tersebut, Pupuk Indonesia akan tetap menjalankan ekspor secara hati-hati, dengan terlebih dulu memastikan kebutuhan petani dalam negeri telah sepenuhnya terpenuhi.

Sebagai bukti atas komitmen tersebut, Rahmad juga memastikan bahwa aktivitas ekspor hanya akan dilakukan Pupuk Indonesia berdasarkan penugasan resmi dari pemerintah, usai lebih dulu memastikan ketercukupan pasokan untuk pasar domestik. terutama saat masa tanam tiba.

"Jadi kami tidak mungkin juga melakukan (ekspor) saat musim tanam. Itu sudah kami sampaikan juga ke perwakilan dari India dan lain-lain, dan bisa dipahami bahwa kami hanya akan ekspor di luar musim tanam," ujar Rahmad.

Saat ini Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dari kebutuhan domestik yang berada pada kisaran enam hingga tujuh juta ton per tahun. Kapasitas ini didukung oleh ketersediaan bahan baku utama berupa gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga.

Kapasitas produksi tersebut turut menopang ketersediaan stok pupuk yang hingga 14 April 2026 mencapai sekitar 1,2 juta ton baik subsidi maupun non-subsidi, yang akan terus diperkuat dengan produksi harian yang berjalan dengan optimal.

"Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup," ujar Rahmad.

Sementara terkait harga jual, Rahmad juga menyatakan bahwa di tengah fluktuasi harga pupuk global, pemerintah memastikan bahwa harga pupuk subsidi akan tetap stabil, dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan sebesar 20 persen pada Oktober 2025 lalu.

Kepastian stabilitas harga ini menjadi salah satu bagian dari instrumen yang disiapkan pemerintah untuk melindungi petani dari gejolak harga internasional, sehingga keterjangkauan pupuk tetap terjaga.

"Pemerintah melalui Kementan sudah menegaskan bahwa HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya, ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun," ujar Rahmad.

"Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Kita punya keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga tidak bergantung pada impor untuk jenis komoditas tersebut," ujar Rahmad.

(taufan sukma)

SHARE