ECONOMICS

Survei PwC: Ekspektasi Para Pimpinan Perusahaan Cenderung Hati-Hati Sepanjang 2026

Kurnia Nadya 10/03/2026 16:46 WIB

Pandangan dan ekspektasi para CEO di dunia cenderung lebih hati-hati dan pesimistif untuk tahun 2026.

Survei PwC: Ekspektasi Para Pimpinan Perusahaan Cenderung Hati-Hati Sepanjang 2026. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Survei PricewaterhouseCoopers’ 29th Global menunjukkan ekspektasi para CEO terhadap kondisi perekonomian dan ekspektasi pendapatan yang cenderung melemah dan pesimistis. 

Survei yang diikuti oleh 4.454 pimpinan perusahaan ini mencatat bahwa dari seluruh partisipan, ada 61 persen CEO yang memperkirakan kondisi ekonomi akan bergerak lebih baik dalam 12 bulan ke depan. 

Namun, di wilayah Asia Pasifik, proporsi CEO yang optimistis hanya 59 persen. Para CEO juga cenderung berhati-hati terhadap ekspektasi pendapatan. Secara global, hanya 30 persen partisipan yang memperkirakan pendapatan mereka bakal naik dalam setahun ke depan. 

Sementara tahun lalu, masih ada 38 persen partisipan yang optimistis pendapatannya bakal naik sepanjang tahun. Pada Asia Pasifik, ekspektasi kenaikan gaji di kalangan CEO malah menurun tajam; hanya 21 persen di antaranya optimistis pendapatannya naik. 

Padahal tahun lalu, survei yang sama mencatat ada 34 persen CEO di kawasan Asia Pasifik yang optimistis pendapatannya bakal naik pada 2025. 

Sama halnya dengan para CEO di Indonesia. Hanya 51 persen partisipan memperkirakan kondisi perekonomian membaik dan hanya 32 persen di antaranya optimistis pendapatannya akan naik sepanjang 2026. 

“Hal ini menunjukkan sikap yang lebih terukur ketika para pemimpin menyeimbangkan ketidakpastian dengan kebutuhan untuk menjaga transformasi jangka panjang,” tulis PwC.

Adapun hal yang mendorong sikap hati-hati yang cenderung pesimistis di kalangan CEO ini adalah volatilitas makroekonomi. Pada tingkat global, Asia Pasifik, dan Indonesia, faktor volatilitas ini disebutkan para CEO masing-masing sebesar 31 persen, 33 persen, dan 27 persen. 

Faktor lain yang memengaruhi pandangan para CEO, terutama secara global dan di kawasan Asia Pasifik, adalah ancaman siber. Selain itu, ada juga faktor kesenjangan kapabilitas (talenta dan keterampilan). 

Selain itu, faktor tarif juga masih menjadi sorotan di kalangan CEO. Sebanyak 20 persen CEO di pangsa global masih mengkhawatirkan tarif. Sementara di Asia Pasifik ada 24 persen dan di Indonesia 23 persen. 

Namun, khusus CEO Indonesia, dampaknya tampak terbatas: lebih dari setengahnya (56 persen) memperkirakan bahwa tarif tidak akan membawa perubahan signifikan pada margin laba bersih perusahaan dalam 12 bulan ke depan.


(Nadya Kurnia)

SHARE