Makin Mahal, Hak Siar Piala Dunia 2030 untuk Pasar AS Berpotensi Tembus Rp18 Triliun
Piala Dunia, ajang kompetisi akbar sepak bola yang mempertemukan negara-negara terbaik, berpotensi semakin mahal untuk dinikmati penggemar di AS.
IDXChannel - Piala Dunia, ajang kompetisi akbar sepak bola yang mempertemukan negara-negara terbaik, berpotensi semakin mahal untuk dinikmati penggemar di Amerika Serikat (AS).
Organisasi sepak bola dunia, FIFA diproyeksikan berada dalam posisi tawar yang sangat kuat untuk Piala Dunia 2030 dan 2034. Hal ini menyusul kesuksesan finansial Piala Dunia 2026 di Kanada, AS, dan Meksiko.
Dikutip dari Front Office Sports, Minggu (12/7/2026), nilai awal penawaran hak siar Piala Dunia berbahasa Inggris minimal akan mencapai USD1 miliar atau Rp18 triliun, melonjak dua kali lipat dibandingkan kontrak sebelumnya USD485 juta.
Kepala Eksekutif Sports Media Advisors, Doug Perlman menilai, lonjakan nilai hak siar hampir tidak dapat dihindari mengingat popularitas sepak bola dan Piala Dunia terus meningkat di AS.
"Tidak diragukan lagi FIFA akan memperoleh kenaikan yang sangat besar untuk hak siar di Amerika Serikat. Fox dan Telemundo tentu ingin mempertahankan hak siar, tetapi banyak pihak lain, termasuk platform streaming, juga akan memburunya karena menjadi aset strategis," kata Perlman.
FIFA diperkirakan melelang hak siar Piala Dunia 2030 yang digelar di Maroko, Spanyol, dan Portugal, serta Piala Dunia 2034 di Arab Saudi. Persaingan bakal semakin ketat karena sejumlah perusahaan media dan platform digital siap mengajukan penawaran sehingga berpotensi mendorong nilai kontrak ke level tertinggi.
Wakil Presiden Eksekutif Divisi Media Advisory Octagon, Daniel Cohen bahkan menilai FIFA memiliki peluang menggabungkan penjualan hak siar berbahasa Inggris dan Spanyol untuk dua edisi Piala Dunia tersebut dalam satu paket senilai hingga USD3 miliar. Menurut dia, lonjakan rating televisi, konsumsi digital, hingga belanja iklan menjadi modal utama FIFA dalam proses negosiasi.
"FIFA dapat menawarkan dua siklus Piala Dunia sekaligus dan berpeluang menghasilkan kontrak senilai USD3 miliar," katanya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Perbedaan zona waktu pada Piala Dunia 2030 diperkirakan kurang menguntungkan bagi pemegang hak siar di AS karena sebagian besar pertandingan akan berlangsung pada jam siang waktu setempat sehingga mengurangi kesempatan tayangan utama atau prime time.
"Zona waktu memiliki dampak yang bahkan lebih besar dibanding perbedaan jadwal penyelenggaraan turnamen. Kami juga melihat pola serupa pada Olimpiade ketika perbedaan waktu menjadi faktor utama penurunan penonton," ujar Senior Vice President Nielsen, Brian Fuhrer.
Selain tantangan waktu siaran, Piala Dunia 2030 juga tidak lagi diramaikan sejumlah bintang senior seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, dan kemungkinan Lionel Messi. Namun, pemain muda seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Folarin Balogun, dinilai berpotensi menjadi daya tarik baru bagi penonton global.
Di sisi lain, FIFA juga memperoleh nilai tambah dari penerapan jeda hidrasi (hydration breaks) yang membuka ruang iklan tambahan. Cohen memperkirakan inovasi tersebut berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan sekitar USD300 juta bagi pemegang hak komersial.
Sejumlah raksasa media dan teknologi diperkirakan ikut bersaing mendapatkan hak siar, antara lain Netflix, Amazon Prime Video, NBC Sports, ESPN, hingga Fox yang selama tiga edisi terakhir menjadi pemegang hak siar berbahasa Inggris di Amerika Serikat.
Optimisme tersebut didukung capaian penonton Piala Dunia 2026 yang mencetak rekor. Fox mencatat rata-rata 26,4 juta penonton saat pertandingan AS melawan Bosnia-Herzegovina pada 1 Juli, sementara total penonton siaran Piala Dunia melalui Fox, FS1, dan Tubi telah mencapai 103,4 juta hingga pertengahan pekan. Angka tersebut memperkuat keyakinan bahwa nilai hak siar Piala Dunia akan terus meningkat pada siklus berikutnya.
(Rahmat Fiansyah)