Lulus Sekolah Gratis Milik Andien, Anak Pemulung Sukses Kerja di Bank hingga Startup
Yayasan yang didirikan Andien menyediakan program pendidikan kesetaraan tingkat SD, SMP, hingga paket C (SMA) sampai siswanya lulus.
IDXChannel—Komitmen penyanyi Andien dalam mendampingi anak-anak dari masyarakat kurang mampu lewat Sekolah Anak Percaya membuahkan hasil manis. Sejumlah murid yang dulunya merupakan anak pemulung kini telah berhasil menembus dunia kerja profesional.
Andien mengungkapkan, yayasan yang ia rintis tak sekadar memberikan kursus kilat, melainkan menyediakan program pendidikan kesetaraan tingkat SD, SMP, hingga Paket C (SMA) sampai siswanya lulus.
Bahkan, tak sedikit dari para siswa yang awalnya tidak memiliki dokumen kependudukan resmi turut dibantu pengurusannya hingga tuntas.
"Dari lulusan-lulusan yang ada, yang sudah diwisuda, Insya Allah kami di sini kesetaraan SD, SMP, SMA. Jadi kami dampingi sampai mereka lulus SMA. Ada beberapa yang sampai diurusin administrasi kependudukannya, seperti KK dan KTP," kata Andien di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Penyanyi kelahiran 25 Agustus 1985 ini pun tak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat menceritakan pencapaian para alumni sekolah tersebut.
"Sudah empat tahun terakhir ini kami mewisuda banyak sekali lulusan. Di antaranya ada yang sudah kerja di bank, ada yang sudah bisa kerja di perusahaan startup," beber Andien.
Keberhasilan itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Andien. Pasalnya, anak-anak yang semula terbiasa membantu orang tuanya memulung sampah kini memiliki wawasan dan peluang karier yang jauh lebih luas.
"Aku senang sekali ketika bisa memaparkan berbagai jenis profesi lainnya, dan mereka jadi bisa kepikiran untuk melamar di jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka," jelasnya.
Lebih lanjut, Andien menegaskan bahwa stigma biaya mahal bukan satu-satunya alasan anak kurang mampu putus sekolah.
Masalah ongkos transportasi dan seragam kerap jadi beban, sehingga ia memilih mendirikan ruang belajar langsung di tengah permukiman mereka.
"Kalau sekolah gratis, transport ke sananya enggak gratis, seragamnya enggak gratis. Solusi mendirikan sekolah di tengah-tengah perkampungan tersebut menjadi yang paling bijaksana yang bisa kami lakukan saat ini," tandasnya.
(Nadya Kurnia)