Adu Kuat Bank Digital, Analis Soroti Sederet Saham Ini
Persaingan bank digital memasuki babak baru, dengan fokus bergeser dari sekadar mengejar pengguna dan kredit menuju kemampuan menguasai dana murah dan kredit.
IDXChannel – Persaingan bank digital memasuki babak baru, dengan fokus bergeser dari sekadar mengejar pengguna dan kredit menuju kemampuan menguasai dana murah sekaligus menyalurkan kredit berkualitas.
Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan menilai digitalisasi perbankan yang pada tahap awal bertumpu pada pertumbuhan pengguna aplikasi, promosi simpanan, serta penyaluran kredit melalui kemitraan kini mulai bergeser.
Dalam riset yang terbit pada 8 September 2026, Posmarito menyebut keunggulan kompetitif ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem dengan frekuensi transaksi tinggi yang menghasilkan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil, data nasabah eksklusif, serta permintaan kredit yang berulang.
Perubahan tersebut mulai terlihat pada kinerja kuartal II-2026. SeaBank, yang tidak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) masing-masing mencatat pertumbuhan kredit 53 persen dan 60 persen secara tahunan.
Sementara itu, PT Bank Jago Tbk (ARTO) menunjukkan pertumbuhan yang lebih seimbang, dengan kredit dan simpanan masing-masing tumbuh 24 persen dan 23 persen.
Sebaliknya, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), meski memiliki basis pengguna digital yang besar, justru mengalami kontraksi kredit 12 persen dan simpanan 8 persen.
SeaBank Jadi Bukti, SUPA Mulai Mengejar
Menurut Posmarito, SeaBank menjadi contoh paling jelas bahwa strategi berbasis ekosistem dapat menghasilkan pertumbuhan sekaligus profitabilitas.
Kepemilikan yang terhubung dengan Shopee membuat SeaBank dapat mengintegrasikan perdagangan, pembayaran, simpanan, hingga kredit dalam ekosistem yang relatif tertutup.
Strategi tersebut menjadikan SeaBank sebagai bank digital terbesar di Indonesia dengan kredit mencapai Rp39,8 triliun dan aset Rp53 triliun, naik dari sekitar Rp11 triliun pada 2021.
Profitabilitasnya juga mulai menunjukkan hasil. Return on equity (ROE) annualized SeaBank mencapai 23,6 persen pada semester I-2026.
UOB Kay Hian melihat SUPA sebagai penantang yang mulai mengikuti pola serupa melalui ekosistem Grab, OVO, dan Emtek. Dengan sekitar 7 juta pengguna, SUPA membukukan pertumbuhan kredit 60 persen, simpanan 89 persen, serta laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar 130 persen.
Manajemen SUPA menargetkan ROE di kisaran belasan persen pada 2027 serta aset Rp100 triliun dalam lima hingga tujuh tahun, dari Rp27 triliun pada semester I-2026.
Namun, ekspansi tersebut masih menghadapi kendala pada sisi pendanaan.
Rasio current account savings account (CASA) SUPA baru sekitar 22 persen dari total simpanan, sementara biaya dana diperkirakan mencapai sekitar 7 persen atau menjadi yang tertinggi di antara bank digital yang dibandingkan.
ARTO Punya Dana, Tantangannya Menyalurkan Kredit
Berbeda dengan SUPA, ARTO dinilai telah berhasil membangun basis nasabah dan liabilitas, tetapi masih menghadapi pertanyaan mengenai kemampuan menghasilkan aset kredit yang lebih berkualitas.
Pada semester I-2026, ARTO memiliki 20,1 juta nasabah dan menghimpun simpanan Rp27,6 triliun. Porsi CASA mencapai 53 persen. Selain itu, sekitar 3,6 juta pengguna ARTO juga terhubung dengan platform investasi Bibit dan Stockbit.
Namun, penyaluran kredit masih banyak bergantung pada platform dan mitra pembiayaan. Kondisi tersebut membuat ROE annualized ARTO masih sekitar 6 persen.
Posmarito juga menyoroti pemberitaan Bloomberg mengenai Jerry Ng dan investor lainnya yang disebut tengah mengkaji sejumlah opsi yang melibatkan ARTO dan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), termasuk kemungkinan merger. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi dari kedua perusahaan terkait transaksi tersebut.
Menurut UOB Kay Hian, apabila terealisasi, kemampuan BFIN dalam pembiayaan beragunan, jaringan distribusi fisik, tenaga penjualan, dan penagihan dapat membantu ARTO memonetisasi basis nasabah serta dana yang telah dihimpunnya.
Opsi tersebut tidak harus berupa merger. Kemitraan, pertukaran saham, pembentukan perusahaan induk, ataupun masuknya investor strategis baru juga dapat memberikan manfaat serupa.
Namun, re-rating saham ARTO tetap akan bergantung pada apakah aksi korporasi tersebut mampu memperluas origination kredit dan menciptakan jalur yang kredibel menuju ROE dua digit secara berkelanjutan, tanpa premi akuisisi atau dilusi yang berlebihan.
BBYB Perlu Kembali Tumbuhkan Kredit
Sementara itu, BBYB dinilai memiliki ruang yang besar untuk kembali bertumbuh. Loan to deposit ratio (LDR) bank tersebut hanya sekitar 58 persen, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) mencapai sekitar 50 persen.
Artinya, tantangan utama BBYB bukan kekurangan likuiditas ataupun modal, melainkan bagaimana mengubah kelebihan dana dan modal tersebut menjadi kredit yang memberikan imbal hasil sesuai risiko.
Manajemen menargetkan kredit mencapai Rp8 triliun pada akhir 2026, yang berarti membutuhkan pertumbuhan sekitar 13 persen pada semester II-2026.
Pertumbuhan tersebut diharapkan berasal dari penyaluran melalui fintech dan perusahaan multifinance, seiring manajemen secara bertahap melonggarkan credit scoring yang sebelumnya terlalu ketat.
Strategi ini dinilai lebih sehat dibandingkan ketergantungan pada Akulaku. Kanal tersebut memang menghasilkan effective yield sekitar 64 persen, tetapi harus berhadapan dengan biaya kredit yang tinggi, yakni sekitar 31 persen.
Meski demikian, skalabilitas dan kualitas aset dari kanal kredit baru tersebut masih harus dibuktikan.
Di sisi lain, penurunan biaya dana, pertumbuhan QRIS, serta ekspansi bisnis wealth management dan bancassurance mulai memberikan sumber pendapatan yang lebih beragam bagi BBYB. Rencana peluncuran buy now, pay later (BNPL) juga memberikan opsi pertumbuhan baru.
Namun, UOB Kay Hian menilai pemulihan BBYB tetap bergantung pada kemampuan bank tersebut mengembalikan pertumbuhan kredit dan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tanpa membuat cost of credit yang sudah tinggi melampaui panduan manajemen sebesar 16 persen.
Tiga Pilihan Investasi dengan Cerita Berbeda
Dengan perkembangan tersebut, UOB Kay Hian memilih pendekatan selektif terhadap saham bank digital.
SUPA dinilai menawarkan potensi peningkatan ROE secara organik. Sementara itu, ARTO memiliki opsi peningkatan origination aset melalui potensi aksi strategis dengan BFIN yang masih belum terkonfirmasi.
Kemudian, BBYB menawarkan valuasi murah sekaligus opsi konsolidasi dan perubahan kepemilikan dengan risiko yang lebih tinggi.
SUPA saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 43,2 kali price to earnings (PE) untuk proyeksi tahun buku 2026 (2026F) dan 2,1 kali price to book value (PBV), sementara ROE-nya baru 4,6 persen.
Dengan valuasi premium tersebut, pasar dinilai sudah mengantisipasi pertumbuhan yang kuat. Karena itu, kenaikan valuasi lebih lanjut membutuhkan peningkatan CASA, penurunan biaya dana, serta bukti nyata menuju target ROE belasan persen pada 2027.
ARTO juga masih tergolong mahal dengan PE 2026F sekitar 32,8 kali dan PBV 1,5 kali, dibandingkan ROE 4,8 persen.
Potensi re-rating akan bergantung pada terealisasinya transaksi yang menciptakan nilai atau peningkatan kemampuan origination secara organik.
Sementara itu, BBYB menjadi opsi dengan valuasi paling murah, yakni sekitar 5,9 kali PE 2026F dan 0,7 kali PBV. Namun, valuasi tersebut mencerminkan tingginya risiko akibat kontraksi kredit, biaya kredit yang masih tinggi, serta ketidakpastian struktur kepemilikan.
Spekulasi mengenai perubahan kepemilikan BBYB mendapat dorongan setelah Akulaku memperoleh persetujuan untuk secara bertahap mengurangi kepemilikannya hingga maksimal 30 persen. Di saat yang sama, Gozco Capital telah meningkatkan kepemilikannya menjadi 10,53 persen.
Usulan OJK untuk menghapus klasifikasi KBMI 1 juga dinilai dapat membuka opsi konsolidasi lebih lanjut. Meski demikian, belum ada transaksi penjualan kendali ataupun calon pembeli yang telah dikonfirmasi.
Pada akhirnya, UOB Kay Hian menilai prospek ketiga saham tersebut akan sangat bergantung pada eksekusi.
Kondisi ekonomi yang memburuk, risiko pelaksanaan strategi, perubahan regulasi, serta aksi korporasi yang tidak terealisasi atau justru tidak memberikan manfaat kepada pemegang saham minoritas menjadi risiko utama.
Khusus untuk ARTO dan BBYB, investor juga perlu mencermati risiko dari akuisisi yang terlalu mahal, skema pertukaran saham (share swap) yang tidak menguntungkan, maupun rights issue yang berpotensi menyebabkan dilusi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.