MARKET NEWS

Analis Optimistis Indonesia Tetap Bertahan di Emerging Market MSCI

TIM RISET IDX CHANNEL 19/06/2026 11:03 WIB

Pasar saham Indonesia masih berada dalam sorotan menjelang keputusan Annual Market Classification Review MSCI yang akan diumumkan pada 24 Juni 2026.

Analis Optimistis Indonesia Tetap Bertahan di Emerging Market MSCI. (Foto: Shutterstock)

IDXChannel – Pasar saham Indonesia masih berada dalam sorotan menjelang keputusan Annual Market Classification Review MSCI yang akan diumumkan pada 24 Juni 2026. Sejumlah analis menilai Indonesia berpeluang besar mempertahankan statusnya sebagai emerging market.

Dalam Global Market Accessibility Review 2026, MSCI kembali menyoroti isu transparansi pasar Indonesia, terutama terkait keterbatasan keterbukaan struktur kepemilikan saham dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu pembentukan harga.

MSCI juga menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow dari “+” menjadi “-”.

Namun, pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai laporan tersebut tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam kerangka aksesibilitas pasar Indonesia. Ia menyebut nada laporan MSCI cenderung datar dan tidak memberikan kejutan besar bagi investor.

“Ini merupakan pengumuman dengan tone dan narasi yang flat. Namun perlu dicatat bahwa MSCI hanya memasukkan Bulgaria dalam review klasifikasi negara, sementara Indonesia tidak masuk dalam periode kali ini,” ujar Michael, Jumat (19/6/2026).

Ia menambahkan, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa status Indonesia pada pengumuman 24 Juni masih akan bertahan di emerging market. “Yang artinya ini mengindikasikan bahwa status negara kita pada 24 Juni masih berada dalam emerging market,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan UOB Kay Hian, yang memperkirakan Indonesia tetap mempertahankan status emerging market.

Proyeksi tersebut didukung oleh berbagai reformasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama peningkatan transparansi dan ketentuan free float, meski MSCI masih akan terus memantau aspek aksesibilitas pasar.

Senada, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai Global Market Accessibility Review MSCI memang memiliki implikasi langsung terhadap status Indonesia, termasuk kemungkinan tetap bertahan di emerging market atau skenario terburuk turun ke frontier.

Namun ia menekankan bahwa proses penilaian MSCI bersifat kualitatif dan keputusan akhir tetap berada pada classification review pekan depan.

“Namun kami perlu mengingatkan bahwa proses ini sebagian besar bersifat kualitatif, dengan keputusan akhir tetap berada pada tinjauan klasifikasi pekan depan,” ujar Wilbert, Jumat (19/6/2026).

Ia menambahkan, dalam siklus terbaru MSCI hanya satu indikator yang berubah, yakni information flow dalam kategori organisasi pasar, yang diturunkan dari “+” menjadi “-” akibat kekhawatiran transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga. Namun ia menilai isu tersebut bukan hal baru dan sudah sesuai ekspektasi pasar.

“Kami menilai tidak adanya deteriorisasi yang lebih luas sebagai sinyal yang lebih penting,” tulis Wilbert.

Menurut Wilbert, kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan Indonesia turun ke frontier market belakangan kembali meningkat, terutama dipicu penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI. Namun ia menilai kekhawatiran tersebut berlebihan.

Ia menyoroti bahwa dalam penilaian MSCI sendiri, Indonesia masih memperoleh skor tertinggi pada aspek kepemilikan asing, bahkan lebih baik dibanding China dan India yang masih masuk daftar negara dengan catatan perbaikan.

Selain itu, dari sisi ukuran dan likuiditas, ia menilai Indonesia masih jauh dari ambang batas degradasi indeks, mengingat sejumlah saham masih memenuhi kriteria utama MSCI.

“Karena itu kami tidak melihat adanya jalur yang kredibel menuju penurunan ke frontier market,” kata Wilbert.

Wilbert juga menekankan bahwa reformasi pasar modal Indonesia, termasuk upaya peningkatan transparansi dan free float, telah diakui MSCI dan mulai tercermin dalam rebalancing indeks sebelumnya.

Secara keseluruhan, Mirae Asset memperkirakan Indonesia akan tetap mempertahankan status emerging market dalam pengumuman MSCI pekan depan.

“Kami memperkirakan tinjauan pekan depan akan mengonfirmasi status Indonesia sebagai Emerging Market. Hasil yang solid akan menghilangkan salah satu tekanan terbesar di pasar,” tulis dia.

Sementara itu, fund manager SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai hanya satu indikator aksesibilitas Indonesia yang mengalami penurunan dalam review kali ini, sementara secara keseluruhan Indonesia masih berada dalam posisi relatif baik dibandingkan sejumlah pasar lain seperti Korea Selatan, China, dan India pada beberapa aspek utama.

“Pasar mungkin akan mencoba membaca lebih jauh pesan di balik laporan tersebut, tetapi poin utamanya adalah ini bukan penurunan menyeluruh dalam kerangka aksesibilitas pasar Indonesia. Skenario dasar kami tetap Indonesia mempertahankan status Emerging Market,” ujar Mirpuri seperti dikutip Reuters, Jumat (19/6/2026).

Di sisi lain, MSCI tetap menyoroti sejumlah hambatan bagi investor asing, mulai dari keterbatasan informasi emiten berbahasa Inggris, mekanisme valuta asing offshore yang belum efisien, hingga pembatasan pada fasilitas stock lending, in-kind transfer, dan transaksi short selling.

Reuters melaporkan, jika Indonesia diturunkan menjadi frontier market, potensi arus keluar dana bisa mencapai USD13 miliar atau sekitar Rp232,05 triliun (asumsi kurs Rp17.850 per USD).

Keputusan MSCI akan diumumkan pada 23 Juni 2026 waktu Eropa atau sekitar 24 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. (Aldo Fernando)

SHARE