BEI Optimistis Jaring Lebih dari 57 Emiten Baru di 2019
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 2019 dengan rasa optimis dan bisa menjaring lebih dari 57 emiten baru di tahun ini untuk melantai di bursa saham.
IDXChannel - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 2019 dengan rasa optimis dan bisa menjaring lebih dari 57 emiten baru di tahun ini untuk melantai di bursa saham.
Direktur Utama BEI Inarno Djayadi mengatakan, menatap tahun baru harus dengan rasa optimis, karena itu pihaknya menargetkan jumlah emiten yang terdaftar di bursa bisa lebih tinggi lagi dibandingkan 2018. Sebelumnya, Inarno memang menargetkan 35 perusaahan bisa melantai di bursa pada tahun 2019.
“Kami harapkan lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2018 kami capai 57 perusahaan (listing/emiten baru). Harapkan tahun ini bisa lebih dari itu,” ujarnya saat ditemui Gedung BEI, Jakarta, Rabu (2/1).
Menurut Inarno, pada awal tahun ini sudah ada 14 perusahaan yang pipelinenya sudah diterima oleh BEI. Sementara itu, ada sekitar 40 perusaahan yang secara terang-terangan menyampaikan minatnya untuk IPO di tahun 2019 kepada dirinya.
“Yang kemarin saja ada 14. Tapi saya belum tahu lagi. Kalau enggak salah lebih dari 40-an ya tahun ini (2019)," jelasnya.
Di sisi lain, lanjut Inarno, pada tahun 2018 lalu juga target jumlah emiten yang IPO juga meningkat drastis. Pada tahun lalu BEI menargetkan hanya 35 emiten baru saja namun pada kenyataanya jumlah emiten baru di BEI hingga akhir tahun mencapai 57.
“Potensinya masih besar. Terus terang saja, tahun lalu kita (soal IPO) tertinggi sejak 1992. kami pikir soal tahun ini, Insya Allah bisa lebih dari itu,” tambah Inarno.
Oleh karena itu, untuk mengejar lebih banyak lagi, pihaknya akan terus memperkuat dengan pihak pemerintah. Di sisi lain, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kepada perusaahan yang belum berani mencatatkan sahamnya di BEI.
“Kami pikir soal tahun ini, Insya Allah bisa lebih dari itu. Kuncinya sosialisasi dan edukasi, serta bekerja sama dengan stakeholder kita, seperti underwriter, OJK atau Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN. Kita bisa coba,” jelasnya.
Lanjut Inarno, kondisi perekonomian global dan dalam negeri diprediksi akan mulai stabil pada tahun 2019. Stabilnya ekonomi global akan menimbulkan sentimen positif yang bisa menggerakkan perusahaan untuk IPO.
“Kembali lagi kami sebagai penyedia perdagangan efek. Biar transparan, wajar, dan efisien. Kami konsentrasi ke situ. Kalau soal ekternal faktor udah dari sana,” pungkas Inarno. (*)