Belajar dari Sejarah, Koreksi Harga Emas Mungkin Belum Usai
Harga emas dunia masih bertahan di level tinggi meski reli yang berlangsung sejak 2022 mulai kehilangan momentum setelah mencapai rekor pada Januari 2026.
IDXChannel - Harga emas dunia masih bertahan di level tinggi meski reli yang berlangsung sejak 2022 mulai kehilangan momentum setelah mencapai rekor pada Januari 2026.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan baru di pasar, apakah tren kenaikan emas telah mendekati akhir atau hanya mengalami jeda sementara sebelum kembali melanjutkan penguatan.
Kolumnis Reuters, Clyde Russell, menilai, pada Jumat (5/6/2026), sejarah menunjukkan reli besar emas biasanya diikuti koreksi yang cukup dalam.
Namun, kondisi pasar saat ini dinilai berbeda karena didorong kombinasi faktor yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Harga emas melonjak sekitar 245 persen sejak September 2022 hingga mencapai rekor USD5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026. Sejak saat itu, harga terkoreksi sekitar 20 persen dan ditutup di level USD4.473,89 per troy ons pada Kamis.
Berdasarkan pola historis, koreksi tersebut sebenarnya masih tergolong moderat.
Pada siklus sebelumnya, emas pernah naik 170 persen dari 2008 hingga 2011 sebelum kemudian anjlok 37 persen dalam beberapa tahun berikutnya. Setelah itu, emas kembali menguat 74 persen hingga 2020 sebelum terkoreksi 22 persen sampai 2022.
Menurut Russell, semakin besar kenaikan harga emas, biasanya semakin besar pula koreksi yang terjadi setelahnya. Jika pola yang sama kembali terulang, emas masih berpotensi mengalami tekanan dalam beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun ke depan.
“Berdasarkan pola reli dan koreksi pada siklus-siklus sebelumnya, harga emas berpotensi mengalami penurunan yang lebih dalam dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan sebelum kembali melanjutkan tren kenaikannya,” kata Russell.
Ia menambahkan, “Namun, asumsi tersebut bergantung pada anggapan bahwa faktor-faktor yang mendorong reli dan fase konsolidasi pada masa lalu masih berlaku dalam kondisi pasar saat ini.”
Meski demikian, reli emas kali ini ditopang oleh sejumlah faktor yang bergerak bersamaan.
Pembelian besar-besaran oleh bank sentral, tingginya permintaan dari konsumen di China dan India, serta meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Kekhawatiran terhadap inflasi, ketegangan geopolitik, hingga kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dinilai dapat mengurangi dominasi dolar AS juga turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Namun sejumlah penopang tersebut mulai melemah. Data dari World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral cenderung melandai sepanjang 2025 dan 2026.
Sementara itu, permintaan perhiasan di China turun 31 persen pada kuartal pertama 2026 dan India turun 19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Secara global, permintaan perhiasan merosot 25 persen menjadi 260,2 ton, sedangkan total permintaan emas turun 9 persen menjadi 1.195,9 ton pada kuartal pertama tahun ini. Kenaikan harga yang terlalu tinggi dinilai mulai menekan minat beli konsumen.
Di sisi lain, arus dana ke produk investasi berbasis emas seperti ETF juga melemah. Inflow ETF emas pada kuartal pertama hanya mencapai 62 ton, turun 73 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Russell menilai pergerakan harga emas kini lebih banyak dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS dibanding faktor-faktor tradisional.
Hubungan terbalik antara harga emas dan minyak dalam beberapa pekan terakhir menjadi contoh perubahan tersebut.
Ketika harga minyak naik akibat konflik antara AS dan Iran, pasar mulai memperkirakan suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi lebih lama sehingga harga emas tertekan.
Sebaliknya, ketika harga minyak turun karena harapan tercapainya perdamaian, ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali menguat dan menopang harga emas.
"Kini emas menjadi sandera perkembangan konflik Iran, sama seperti banyak aset keuangan lainnya," tulis Russell. (Aldo Fernando)