MARKET NEWS

Berburu Saham Dividend Play di Tengah Guncangan MSCI

TIM RISET IDX CHANNEL 30/01/2026 07:15 WIB

Gejolak pasar saham akibat peringatan indeks global MSCI justru dinilai membuka peluang bagi investor yang memburu saham dengan imbal hasil dividen menarik.

Berburu Saham Dividend Play di Tengah Guncangan MSCI. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Gejolak pasar saham akibat peringatan indeks global MSCI justru dinilai membuka peluang bagi investor yang memburu saham dengan imbal hasil dividen (dividend yield) yang menarik.

Di tengah tekanan jual yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam, sejumlah saham dengan fundamental solid kini menawarkan dividend yield yang semakin menarik.

IHSG bergerak fluktuatif sepanjang Kamis (29/1/2026), setelah sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit di awal sesi.

Setelah perdagangan dibuka kembali, indeks berhasil memangkas penurunan seiring respons investor terhadap langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO) dalam menanggapi peringatan MSCI.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 1,06 persen ke level 8.232,20 pada Kamis. Sepanjang perdagangan, indeks sempat mengalami trading halt selama 30 menit setelah anjlok 8 persen pada pukul 09.26-09.56 WIB.

Pada fase tersebut, IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah harian di 7.481,99, atau terkoreksi hingga 10,07 persen, sebelum akhirnya memangkas pelemahan hingga penutupan.

Di tengah kondisi pasar yang tertekan, riset BRI Danareksa Sekuritas, pada Kamis (29/1), menilai koreksi tajam justru menciptakan peluang dividend yield play.

Penurunan harga saham yang signifikan membuat imbal hasil dividen secara trailing melonjak, terutama pada emiten dengan kinerja laba yang masih solid.

Dalam kajian tersebut, BRI Danareksa menyoroti sejumlah saham dengan kombinasi dividend yield tinggi dan earnings per share (EPS) atau laba per saham trailing twelve months (TTM) yang kuat.

Saham-saham ini dinilai berpotensi memberikan arus kas (cashflow) yang menarik sekaligus bersifat relatif defensif di tengah ketidakpastian pasar.

Beberapa saham yang masuk dalam daftar tersebut antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan dividend yield sekitar 10,30 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 10,20 persen, serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan yield sekitar 9,55 persen.

Selain itu, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), hingga PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga tercatat menawarkan yield di kisaran 9 persen.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, karakteristik utama dari saham-saham tersebut adalah dividend yield yang tinggi secara trailing, earnings TTM yang masih kuat sehingga dividen dinilai relatif berkelanjutan, serta valuasi yang terdiskon akibat aksi jual masif selama fase market panic.

Dari sisi teknikal, kata BRI Danareksa, minat pasar juga mulai terlihat pada sejumlah saham perbankan besar.

Salah satu contohnya adalah BMRI, di mana pada area harga 4.000-4.200 muncul peningkatan volume transaksi yang disertai rejection candle.

Pola ini mencerminkan mulai masuknya minat beli dan mengindikasikan bahwa level harga tersebut dipandang menarik oleh pelaku pasar.

Kondisi tersebut dinilai selaras dengan ekspektasi dividend yield BMRI yang relatif tinggi, sehingga tekanan jual dapat tertahan meskipun pasar secara umum masih berada dalam fase koreksi.

Rebound saham-saham berkapitalisasi besar pun, baik blue chip tradisional maupun konglomerasi, turut membantu IHSG keluar dari tekanan jual ekstrem di akhir perdagangan Kamis.

Peringatan MSCI

Seperti diketahui, perdagangan saham di BEI sempat dihentikan sementara selama 30 menit dalam dua hari terakhir, yakni pada 28-29 Januari 2026. Langkah tersebut dipicu oleh penurunan tajam IHSG yang anjlok hingga 8 persen pada masing-masing hari perdagangan.

Tekanan di pasar saham domestik meningkat setelah MSCI menyoroti risiko kelayakan investasi (investability) pasar Indonesia, khususnya terkait transparansi struktur kepemilikan dan data free float.

MSCI bahkan membuka kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia di indeks pasar berkembang, hingga risiko penurunan status menjadi frontier market apabila tidak ada perbaikan signifikan hingga Mei mendatang.

Langkah OJK-SRO

Kabar teranyar, OJK dan SRO menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons pengumuman MSCI yang menyoroti kekhawatiran terkait aspek investability tersebut.

“Kami, OJK menerima penjelasan itu sebagai masukan yang baik, karena kami melihat lembaga itu tetap ingin memasukkan saham-saham emiten dari Indonesia dalam indeks global," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers bersama OJK dan SRO terkait Keputusan MSCI di BEI, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Mahendra menyampaikan, SRO telah mempublikasikan sekaligus menyerahkan data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci kepada MSCI.

Proses penyesuaian masih akan terus berjalan, sejalan dengan evaluasi dan respons MSCI terhadap data tersebut, hingga dapat diterima sepenuhnya.

Sejalan dengan itu, SRO juga berkomitmen memenuhi permintaan MSCI terkait penyajian data kepemilikan saham yang lebih detail dengan mengacu pada best practice internasional.

Di sisi lain, SRO tengah menyiapkan penerbitan aturan mengenai free float minimum sebesar 15 persen. Ketentuan ini direncanakan terbit dalam waktu dekat dan akan diberlakukan baik bagi emiten yang akan melantai melalui IPO maupun emiten yang sudah tercatat di bursa.

Bagi emiten yang tidak mampu memenuhi ketentuan free float minimum tersebut, akan disiapkan mekanisme exit policy sebagai bagian dari upaya penataan pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE