MARKET NEWS

Bobot Indonesia di MSCI Mulai Stabil, November Jadi Penentu

TIM RISET IDX CHANNEL 29/07/2026 06:24 WIB

Bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (EM) mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah tertekan sepanjang semester I-2026.

Bobot Indonesia di MSCI Mulai Stabil, November Jadi Penentu. (Foto: Getty Images)

IDXChannel – Bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (EM) mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah tertekan sepanjang semester I-2026.

Meski begitu, peninjauan (review) indeks MSCI pada Agustus diperkirakan masih menghadirkan sejumlah perubahan, termasuk potensi keluarnya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari indeks standard dan nasib PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang masih menjadi tanda tanya.

Dalam riset yang diterbitkan pada 24 Juli 2026, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menyebut bobot Indonesia di MSCI EM telah stabil di kisaran 0,5 persen setelah sempat menyentuh titik terendah sekitar 0,4 persen pada Juni 2026.

Posisi tersebut turun tajam dibandingkan sekitar 1,2 persen pada Desember 2025 dan menjadi level terendah dalam satu dekade.

Menurut Wilbert, stabilisasi tersebut didorong oleh membaiknya kinerja pasar saham domestik.

Hingga Juli, indeks MSCI Indonesia menguat sekitar 12,5 persen secara bulanan (month-to-date/MTD), berbanding terbalik dengan MSCI EM yang terkoreksi sekitar 4 persen pada periode yang sama.

Di sisi lain, arus dana asing juga menunjukkan perbaikan. Outflow asing pada Juli menyusut menjadi sekitar Rp4,1 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata arus keluar bulanan sebesar Rp12,3 triliun sepanjang semester I-2026.

Wilbert mengatakan MSCI akan mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia dan perubahan tersebut akan efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.

Dia memperkirakan tidak ada saham baru yang masuk ataupun naik kelas ke indeks standar karena kebijakan pembekuan (freeze) masih berlaku.

Dengan demikian, peninjauan kali ini lebih bersifat penyesuaian komposisi indeks.

Menurutnya, CPIN menjadi kandidat paling kuat untuk diturunkan dari indeks MSCI Standard ke MSCI Small Cap.

Hal itu disebabkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan Foreign Inclusion Factor (FIF-adjusted market cap) telah turun di bawah ambang batas setelah harga sahamnya melemah sekitar 22,5 persen sejak peninjauan Mei 2026.

Sementara itu, GOTO dinilai menjadi variabel yang paling sulit diprediksi. Sejak Mei 2026, MSCI telah memantau saham tersebut karena persoalan likuiditas setelah harga saham bertahan di level batas bawah Rp50 per saham.

Wilbert menjelaskan, secara aturan umum GOTO sebenarnya masih memenuhi persyaratan likuiditas. Rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR) selama tiga bulan dan 12 bulan masing-masing mencapai 41,3 persen dan 72,8 persen, jauh di atas ambang batas MSCI sebesar 5 persen dan 10 persen.

Namun, MSCI juga memiliki ruang diskresi untuk mempertimbangkan aspek keterulangan transaksi (replicability).

Menurut Wilbert, harga saham yang terus berada di level Rp50 serta ATVR Juli yang hanya sekitar 0,6 persen dapat menjadi dasar bagi MSCI untuk mengambil keputusan di luar pengujian rasio formal.

Selain perubahan komposisi indeks, MSCI juga memperkenalkan metodologi baru berupa Extreme Price Increase (EPI) Screen. Wilbert menilai aturan ini merupakan respons terhadap dugaan praktik perdagangan terkoordinasi pada saham-saham kapitalisasi kecil di Turki.

Meski demikian, dampaknya terhadap Indonesia dalam waktu dekat diperkirakan masih terbatas karena penambahan saham ke indeks maupun kenaikan kelas masih dibekukan. Aturan tersebut baru akan relevan apabila kebijakan freeze dicabut.

Menurut Mirae Asset, apabila kebijakan freeze dicabut, maka 43 saham yang saat ini menjadi konstituen MSCI Indonesia Small Cap akan kembali dievaluasi.

Saham yang mengalami kenaikan harga signifikan hingga kapitalisasi pasarnya melampaui 1,8 kali ambang batas indeks standar, serta memiliki FIF-adjusted market capitalization di atas separuh ambang tersebut, akan dikeluarkan dari indeks Small Cap.

Selanjutnya, saham tersebut akan dinilai kembali untuk berpeluang masuk ke indeks MSCI Standard pada peninjauan berikutnya, bukan otomatis tetap berada di indeks Small Cap seperti mekanisme sebelumnya.

Mirae Asset memperkirakan penurunan status CPIN berpotensi memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp500 miliar atau setara sekitar 150 juta saham.

Apabila GOTO juga dikeluarkan dari indeks standar, tambahan outflow diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun atau sekitar 20 miliar saham.

Meski demikian, Wilbert menilai dampak tersebut relatif kecil dibandingkan dengan peningkatan kapitalisasi pasar Indonesia sepanjang Juli sehingga diperkirakan dapat diserap pasar.

Dia menambahkan, tantangan utama bagi Indonesia bukan lagi risiko keluarnya dana pasif, melainkan kapan MSCI mencabut kebijakan freeze sehingga bobot Indonesia di MSCI EM dapat kembali meningkat.

"Secara keseluruhan kami tetap konstruktif terhadap prospek pasar saham Indonesia pada semester II-2026 dan memandang pelemahan akibat penyesuaian indeks pada akhir Agustus sebagai peluang akumulasi, meski kepastian penuh baru akan terlihat setelah peninjauan MSCI pada November," tulis Wilbert. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE