MARKET NEWS

Bursa Asia Beragam, Investor Cermati Kebijakan The Fed dan Ketegangan AS-Iran

TIM RISET IDX CHANNEL 01/07/2026 09:10 WIB

Bursa saham Asia mengawali kuartal baru dengan variatif pada Rabu (1/7/2026).

Bursa Asia Beragam, Investor Cermati Kebijakan The Fed dan Ketegangan AS-Iran. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bursa saham Asia mengawali kuartal baru dengan variatif pada Rabu (1/7/2026).

Investor mencermati perkembangan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali menghadapi hambatan, sementara pasar juga mewaspadai kemungkinan intervensi Jepang setelah yen menyentuh level terendah dalam 40 tahun terakhir.

Melansir dari Reuters, Iran pada Selasa menyatakan tidak akan bertemu dengan utusan utama AS yang telah terbang ke kawasan tersebut.

Kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan terkait kerangka kesepakatan yang dapat membuka kembali sepenuhnya jalur pelayaran Selat Hormuz.

Pasar obligasi juga berada di bawah tekanan setelah imbal hasil surat utang pemerintah AS melonjak pada perdagangan sebelumnya.

Kenaikan tersebut terjadi karena pasar berjangka mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), menjelang rilis data ketenagakerjaan penting pada Kamis.

Perhatian investor kini tertuju pada Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan tampil dalam konferensi bank sentral Eropa pada Rabu.

Pasar akan mencari petunjuk mengenai kemungkinan kebutuhan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Namun, Warsh selama ini dikenal menentang pemberian panduan kebijakan ke depan oleh The Fed, sehingga pelaku pasar memperkirakan ia tetap berhati-hati dalam memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga.

Pasar berjangka menunjukkan peluang sebesar 33 persen bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan mencapai sekitar 70 persen.

Di pasar saham, investor bertaruh musim laporan keuangan mendatang akan cukup kuat untuk mengimbangi risiko kenaikan suku bunga.

Hal ini mendorong arus dana tetap mengalir ke sektor teknologi yang menjadi favorit pasar.

Indeks Nikkei Jepang naik 0,29 persen usai sempat melesat 1 persen, melanjutkan penguatan setelah melonjak 37 persen sepanjang kuartal II-2026.

Sentimen terhadap sektor teknologi turut mendorong kepercayaan produsen besar Jepang ke level tertinggi sejak 2018, berdasarkan survei yang dirilis Rabu.

Survei lainnya menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang mencatat kuartal terbaik sejak 2014, didorong lonjakan pesanan baru.

STI Singapura menguat 0,16 persen dan Shanghai Composite terkerek 0,34 persen.

Sebaliknya, indeks utama Korea Selatan, KOSPI, melemah 3,07 persen setelah mencatat kenaikan luar biasa sebesar 68 persen pada kuartal II-2026 berkat lonjakan permintaan semikonduktor terkait kecerdasan buatan (AI).

Demikian pula, ASX 200 Australia tergelincir 0,43 persen.

Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX tidak banyak berubah, sementara FTSE futures turun 0,2 persen. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,1 persen setelah mencatat penguatan solid pada perdagangan sebelumnya.

Jeda kenaikan saham dinilai wajar setelah Wall Street mencatat kuartal terbaik sejak 2020.

Kinerja tersebut dipimpin oleh lonjakan 88 persen pada Philadelphia Semiconductor Index, yang mencerminkan kuatnya minat investor terhadap saham teknologi dan semikonduktor.

"Kinerja historis jelas lebih mendukung investor yang optimistis," ujar Kepala Riset Pepperstone Chris Weston.

Ia melanjutkan, "Sejak 2008, kontrak berjangka Nasdaq hanya mencatat satu kali penurunan pada Juli."

Menurut Weston, musim laporan keuangan mendatang akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah ekspektasi laba perusahaan terus membaik dan apakah alokasi portofolio investor masih akan bergeser ke sektor teknologi.

Bank-bank besar akan memulai musim laporan keuangan pada pertengahan Juli. Analis memiliki ekspektasi tinggi terhadap pertumbuhan laba sektor teknologi maupun perusahaan secara keseluruhan.

Kinerja laba yang kuat diperlukan untuk mengimbangi daya tarik imbal hasil obligasi yang lebih tinggi serta risiko kenaikan suku bunga acuan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di level 4,55 persen setelah melonjak hampir 9 basis poin pada Selasa. (Aldo Fernando)

SHARE