Bursa Asia Beragam, Pasar Cermati Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed
Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Rabu (29/4/2026), seiring pelaku pasar bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian konflik Iran.
IDXChannel – Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Rabu (29/4/2026), seiring pelaku pasar bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian konflik Iran serta menjelang keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS).
Indeks acuan kawasan, MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang, tercatat melemah tipis setelah sempat menyentuh rekor tertinggi awal pekan ini. Tekanan terutama datang dari saham-saham chip Taiwan, sementara pasar Jepang libur.
Pergerakan indeks utama di kawasan pun bervariasi.
Hingga pukul 09.38 WIB, Kospi Korea Selatan turun 0,13 persen, ASX 200 Australia melemah 0,19 persen, dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,52 persen. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong menguat 1,12 persen, sementara Shanghai Composite naik tipis 0,11 persen.
Sentimen pasar masih dibayangi kebuntuan pembicaraan damai terkait Iran.
Mengutip Reuters, upaya negosiasi belum menunjukkan kemajuan berarti, dengan Iran menuntut pencabutan blokade laut AS di Selat Hormuz.
Di sisi lain, pemerintah AS dilaporkan tengah menyiapkan skenario blokade yang lebih panjang.
Kondisi ini turut menopang harga minyak. Minyak mentah Brent naik 0,4 persen ke USD111,71 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Di Wall Street, indeks saham utama ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.
S&P 500 turun 0,5 persen, sementara Nasdaq terkoreksi 0,9 persen, tertekan sentimen geopolitik dan kekhawatiran terhadap sektor teknologi, khususnya terkait prospek bisnis kecerdasan buatan (AI).
Fokus investor kini tertuju pada rilis kinerja raksasa teknologi AS seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta Platforms, yang dinilai akan menjadi ujian lanjutan bagi reli saham berbasis AI.
Selain itu, perhatian pasar juga mengarah pada hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga, dengan peluang hampir 100 persen tidak adanya perubahan kebijakan dalam waktu dekat.
Dari sisi komoditas, pasar juga mencerna keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC. Meski demikian, dampaknya dinilai terbatas karena kapasitas produksi negara tersebut saat ini sudah mendekati batas maksimal. (Aldo Fernando)