Bursa Asia Melemah, Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak
Bursa saham Asia melemah pada Jumat (6/3/2026), mengikuti penurunan di Wall Street seiring memanasnya konflik Iran.
IDXChannel – Bursa saham Asia melemah pada Jumat (6/3/2026), mengikuti penurunan di Wall Street seiring memanasnya konflik Iran mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 0,5 persen ke kisaran 55.000, sementara indeks yang lebih luas Topix melemah 0,78 persen.
Kedua indeks tersebut berada di jalur penurunan lebih dari 6 persen sepanjang pekan ini.
Mengutip Trading Economics, serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran kini memasuki hari ketujuh. Teheran merespons dengan gelombang baru serangan rudal dan drone di kawasan Teluk.
Lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi turut menekan pasar saham global.
Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda memperingatkan bahwa perang tersebut berpotensi berdampak signifikan terhadap perekonomian Jepang.
Di Korea Selatan, indeks Kospi Korea Selatan (Korsel) kembali merosot 2,01 persen setelah sehari sebelumnya mencatat kenaikan terbaik sejak 2008.
Pergerakan Kospi sangat volatil dalam tiga hari terakhir, setelah sempat anjlok 7 persen dan 12 persen pada Selasa dan Rabu, yang memicu penghentian perdagangan sementara, sebelum melonjak 9,6 persen pada Kamis.
Shanghai Composite juga terkeren 0,45 prsen, bersama ASX 200 Australia yang turun 1,31 persen dan STI Singapura 0,35 persen.
Berbeda, Hang Seng Hong Kong menguat 0,11 persen.
Sementara itu di Wall Street AS, tiga indeks acuan ditutup melemah pada Kamis.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,61 persen menjadi 47.954,74. Indeks S&P 500 merosot 0,56 persen ke 6.830,71, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,26 persen menjadi 22.748,99.
Melansir dari Reuters, meluasnya konflik memicu kekhawatiran gangguan pengiriman energi di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia. Ancaman rudal dan drone telah mengurangi lalu lintas kapal tanker secara drastis.
Kondisi ini mendorong harga minyak mentah AS melonjak 8,5 persen menjadi USD81 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024. Sementara minyak Brent naik 4,9 persen ke USD85,41 per barel.
Pelaku pasar khawatir gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Di tengah situasi tersebut, investor juga menanti data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis.
Saat ini pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) sekitar 40 basis poin tahun ini, turun dari perkiraan sekitar 50 basis poin sebelum perang pecah. (Aldo Fernando)