Bursa Asia Tertekan Jelang Keputusan The Fed dan BoJ
Bursa saham Asia cenderung tertekan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
IDXChannel – Bursa saham Asia cenderung tertekan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta kenaikan imbal hasil obligasi.
Investor juga mencermati kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjelang keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan Jepang.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,12 persen. Pelemahan dipimpin indeks saham Korea Selatan yang terkoreksi 0,25 persen. Sementara itu, Nikkei Jepang berbalik menguat 0,19 persen setelah sempat dibuka melemah.
Pergerakan saham teknologi juga bervariasi. Samsung Electronics turun 0,2 persen, sedangkan saham Kioxia di Jepang melonjak 3,3 persen.
Dari pasar komoditas, kekhawatiran terhadap pasokan energi kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi.
Sebelumnya, melansir dari Reuters, Riyadh menuding kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak menyerang pipa minyak yang menghubungkan wilayah timur dan barat Arab Saudi. Serangan tersebut disebut berpotensi mengganggu hingga 4 persen pasokan minyak global.
Negara-negara Arab di Teluk juga menunda pembicaraan yang sebelumnya direncanakan dengan Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan energi di kawasan.
Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,27 persen menjadi USD102,68 per barel, sedangkan minyak Brent menguat 1,21 persen menjadi USD106,96 per barel.
“Pasar kemungkinan masih akan fokus pada risiko kenaikan harga minyak mentah yang dapat menambah tekanan inflasi dan pada akhirnya mendorong suku bunga lebih tinggi,” kata analis Mitsubishi UFJ Bank Yokoo Akihiko, dikutip Reuters.
Tekanan terhadap pasar juga datang dari kekhawatiran mengenai perkembangan AI. Sejumlah tokoh industri AI menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut.
Kekhawatiran itu tetap menjadi perhatian investor meskipun Presiden AS Donald Trump berupaya meredam kekhawatiran mengenai penyalahgunaan AI.
Trump menyatakan perlindungan yang berlaku di AS sudah memadai dan memperingatkan bahwa keraguan terhadap pengembangan AI justru dapat memberikan keuntungan bagi China.
Menanti Keputusan The Fed
Investor kini mengalihkan perhatian ke pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dimulai Selasa waktu setempat. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 90 persen.
Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama dilakukan Federal Reserve sejak pertengahan 2023.
Morgan Stanley memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu dan kembali menaikkannya pada Desember.
Bank tersebut menilai meski inflasi terus melandai, kejutan kenaikan inflasi belakangan ini menunjukkan proses disinflasi berlangsung lebih lambat dan belum cukup meyakinkan bagi The Fed.
“Kami melihat alasan untuk menaikkan maupun mempertahankan suku bunga, tetapi tanda-tanda efek lanjutan dari kenaikan harga energi, kuatnya permintaan yang berkaitan dengan investasi AI, tingkat suku bunga netral yang mungkin sementara lebih tinggi, serta kekhawatiran terhadap kredibilitas membuat keseimbangan risiko kini mengarah pada kebijakan yang lebih ketat,” tulis analis Morgan Stanley dalam laporan.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5 persen, level tertinggi sejak 2023. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun juga naik di atas 3,51 persen, level tertinggi sejak 2009.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun kembali menyentuh 3 persen.
Bank of Japan (BoJ) juga diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada akhir pertemuan dua hari pada Jumat.
Pasar menanti sinyal mengenai kemungkinan pengetatan lanjutan, terutama setelah kebijakan intervensi membantu menjauhkan yen dari level terlemahnya dalam 40 tahun. (Aldo Fernando)