MARKET NEWS

Bursa Asia Tertekan, Minyak Melonjak Lagi usai Serangan Iran di Teluk

TIM RISET IDX CHANNEL 12/03/2026 08:42 WIB

Bursa saham Asia melemah pada Kamis (12/3/2026) seiring harga minyak melonjak menyusul laporan serangan terhadap lebih banyak kapal di Selat Hormuz.

Bursa Asia Tertekan, Minyak Melonjak Lagi usai Serangan Iran di Teluk. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia melemah pada Kamis (12/3/2026) seiring harga minyak melonjak menyusul laporan serangan terhadap lebih banyak kapal di Selat Hormuz dan perairan Irak.

Lonjakan harga energi itu memicu kekhawatiran inflasi serta mendorong biaya pinjaman lebih tinggi di berbagai negara.

Hingga pukul 08.35 WIB, indeks Nikkei turun 0,72 persen, sedangkan indeks Topix yang lebih luas melemah 1,09 persen.

Manajer portofolio senior GCI Asset Management Takamasa Ikeda mengatakan pasar kini bertaruh konflik akan berlangsung lebih lama.

"Pasar bertaruh perang ini akan berlangsung lama. Harga minyak naik, dan itu mendorong investor menjual saham,” kata Ikeda, seperti dikutip Reuters.

Harga minyak ditutup melonjak hampir 5 persen semalam setelah serangan baru terhadap kapal di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan.

Para analis menilai rencana Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah rekor tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar.

Jepang, yang sekitar 95 persen pasokan minyaknya bergantung pada Timur Tengah, mengatakan akan melepas sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.

Volume itu setara dengan sekitar 45 hari pasokan untuk membantu meredam gangguan global.

Indeks saham ASX 200 Australia juga melemah pada Kamis setelah sempat menguat selama dua sesi sebelumnya. Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran inflasi, menekan minat risiko investor, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pekan depan.

Indeks S&P/ASX 200 turun 1,23 persen menjadi 8.635.

Selain pasar Jepang dan Australia, KOSPI Korea Selatan juga turun 0,13 persen, Hang Seng Hong Kong minus 0,44 persen, STI Singapura tergerus 0,11 persen, dan Shanghai Composite turun tipis 0,08 persen.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka (futures) saham Wall Street juga bergerak turun pada Rabu malam waktu setempat.

Futures S&P 500 turun 56 poin atau 0,8 persen menjadi 6.722, sementara futures Dow Jones merosot 462 poin.

Harga minyak mentah AS atau WTI melonjak 7,5 persen menjadi USD93,80 per barel pada Kamis pagi, memperpanjang kenaikan lebih dari 4 persen pada sesi sebelumnya.

Minyak mentah Brent juga melonjak 7,7 persen menjadi USD99,03 per barel.

Kenaikan itu terjadi meskipun IEA berencana melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, yang menjadi pelepasan terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.

AS mengatakan akan melepas 172 juta barel minyak mulai pekan depan sebagai bagian dari rencana tersebut.

Di Irak, dua kapal tanker bahan bakar dilaporkan terkena serangan perahu bermuatan bahan peledak milik Iran di perairan negara itu.

Seorang pejabat Irak juga mengatakan kepada media pemerintah bahwa pelabuhan minyak "telah sepenuhnya menghentikan operasi".

Analis IG Tony Sycamore mengatakan sejumlah kapal tanker yang membawa minyak mentah Irak dilaporkan terbakar di Teluk Persia, lepas pantai Basra, dengan api besar dan minyak yang menyala bocor ke laut.

"Beberapa kapal tanker bermuatan minyak mentah Irak kini dilaporkan terbakar di Teluk Persia di lepas pantai Basra, dilalap api dan menumpahkan minyak yang terbakar ke perairan," kata Sycamore.

Ia menilai kejadian itu tampak sebagai respons langsung dan tegas dari Iran terhadap pengumuman IEA tentang pelepasan cadangan strategis dalam jumlah besar untuk meredam lonjakan harga minyak.

Sebelumnya Iran juga meningkatkan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz dan memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi harga minyak USD200 per barel.

Pada Rabu, tiga kapal dilaporkan terkena serangan di perairan Teluk setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembaki kapal yang tidak mematuhi perintah mereka.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan perang melawan Iran telah dimenangkan, namun ia mengatakan akan tetap melanjutkan operasi untuk menuntaskan konflik tersebut, yang semakin menambah ketidakpastian di pasar. (Aldo Fernando)

SHARE