MARKET NEWS

Dolar Turun dari Puncak, Bank Sentral Global Makin Hawkish 

Desi Angriani 20/03/2026 16:30 WIB

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir seiring lonjakan harga energi.

Dolar Turun dari Puncak, Bank Sentral Global Makin Hawkish (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir seiring lonjakan harga energi yang mengubah arah kebijakan suku bunga global. 

Di tengah kondisi ini, Federal Reserve (The Fed) menjadi satu-satunya bank sentral utama yang diperkirakan belum menaikkan suku bunga tahun ini.

Melansir Investing, Jumat (20/3/2026), sebelum pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari, pelaku pasar sempat memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada 2026.  Namun kini, ekspektasi tersebut memudar dan bahkan peluang satu kali pemangkasan pun dinilai semakin kecil.

Sebaliknya, bank sentral utama lainnya justru mengarah pada kebijakan yang lebih agresif (hawkish) dalam merespons lonjakan harga energi akibat terganggunya pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah.

Sejumlah mata uang utama dunia pun menguat terhadap dolar AS. Euro, yen Jepang, poundsterling, franc Swiss, hingga dolar Australia mencatatkan penguatan mingguan seiring ekspektasi kenaikan suku bunga di masing-masing kawasan.

Euro tercatat menguat sekitar 1,2 persen dalam sepekan, meski sedikit melemah ke USD1,1558 pada perdagangan Asia. Yen Jepang juga naik 0,9 persen ke kisaran 158 per USD, sementara poundsterling menguat 1,4 persen ke USD1,3408.

Lonjakan harga energi menjadi faktor utama perubahan ekspektasi pasar. Harga minyak acuan Brent crude oil telah melonjak hampir 50 persen sejak konflik memanas, terutama setelah jalur ekspor energi di Timur Tengah terganggu.

European Central Bank (ECB) memang masih menahan suku bunga dalam pertemuan terbaru, namun memberikan sinyal kuat potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat akibat tekanan inflasi dari energi. 

Pasar bahkan mulai memperkirakan kenaikan suku bunga di kawasan Eropa dapat terjadi pada pertengahan tahun. Hal serupa terjadi di Inggris. Bank of England menahan suku bunga, tetapi mengindikasikan kesiapan untuk bertindak. Pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga hingga 80 basis poin hingga akhir tahun.

Di Asia, Bank of Japan membuka peluang kenaikan suku bunga secepatnya pada April, mendorong penguatan yen. Sementara itu, Reserve Bank of Australia telah menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya dalam dua bulan terakhir, dengan ekspektasi pengetatan lanjutan.

Meski demikian, The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga dan mengambil sikap wait and see. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan, masih terlalu dini untuk menilai dampak ekonomi dari konflik yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, harga minyak sempat terkoreksi tipis pada Jumat (20/3/2026) setelah Presiden AS Donald Trump meminta Israel untuk tidak melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, menyusul eskalasi serangan yang telah mengganggu fasilitas gas di kawasan tersebut.

(DESI ANGRIANI)

SHARE