MARKET NEWS

Drama 15 Menit di Pasar Minyak Sebelum Penundaan Serangan Iran

TIM RISET IDX CHANNEL 26/03/2026 07:50 WIB

Para trader tercatat memasang taruhan lebih dari setengah miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Drama 15 Menit di Pasar Minyak Sebelum Penundaan Serangan Iran. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Pergerakan harga minyak dunia sempat diwarnai drama besar, setelah para trader tercatat memasang taruhan lebih dari setengah miliar dolar Amerika Serikat (AS) hanya 15 menit sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran beberapa hari lalu.

Keputusan tersebut langsung memicu kejatuhan tajam pasar minyak dan memperlihatkan betapa sensitifnya pergerakan harga energi terhadap setiap sinyal geopolitik dari Washington.

Data bursa LSEG dan perhitungan Reuters menunjukkan bahwa pada pukul 10.49-10.50 GMT (17.49–17.50 WIB), trader memperdagangkan sekitar 5.100 lot kontrak berjangka (futures) Brent dan WTI dengan nilai melampaui USD500 juta atau sekitar Rp8,45 triliun (asumsi kurs Rp16.900 per USD).

Dalam periode tersebut, aktivitas jual mendominasi transaksi, meski identitas pelaku perdagangan tidak dapat dipastikan.

Tekanan jual semakin kuat setelah Trump mengunggah pernyataan di Truth Social pada pukul 11.05 GMT atau sekitar 18.05 WIB.

Ia sebelumnya memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebelum Senin atau menghadapi ancaman penghancuran pembangkit listrik, namun kemudian menyampaikan bahwa pembicaraan konstruktif antara Washington dan Teheran masih berlangsung.

Sinyal deeskalasi itu langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar energi.

Harga minyak Brent sempat anjlok hingga 15 persen dalam hitungan menit karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan pasokan minyak dari Teluk kembali mengalir jika ketegangan mereda.

Lonjakan transaksi pun terjadi secara ekstrem. Dalam 60 detik setelah pernyataan Trump pada 11.05 GMT (18.05 WIB), lebih dari 13.000 lot kontrak Brent dan WTI, setara 13 juta barel minyak, berpindah tangan, jauh melampaui lonjakan volume sebelumnya.

Harga Brent yang sebelumnya berada di kisaran USD112 per barel sempat jatuh ke sekitar USD99, sementara WTI turun dari sekitar USD99 ke USD86 per barel.

Bursa Intercontinental Exchange (ICE) dan CME Group selaku pengelola perdagangan Brent dan WTI belum memberikan komentar atas pergerakan tidak biasa tersebut.

Sementara itu, U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), Gedung Putih, dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) juga belum memberikan tanggapan terkait lonjakan transaksi menjelang pengumuman tersebut.

Meski sempat terkoreksi, harga minyak masih bertahan tinggi. Pasokan global yang terpangkas akibat konflik Timur Tengah membuat harga minyak tetap lebih dari 40 persen di atas level sebelum konflik meletus pada akhir Februari.

Volatilitas pasar pun melonjak tajam. Dalam tiga tahun sebelum konflik, rata-rata transaksi Brent hanya sekitar 300.000 lot per hari, namun dalam empat pekan terakhir volume harian menembus lebih dari 1 juta lot atau setara satu miliar barel minyak.

Saat ini, harga Brent berada di kisaran USD102 per barel seiring ketidakpastian yang masih membayangi pasar, kendati telah muncul sinyal negosiasi antara AS dan Iran. (Aldo Fernando)

SHARE