MARKET NEWS

Efek MSCI dan FTSE Picu Outflow, Sederet Big Caps Kian Tertekan

TIM RISET IDX CHANNEL 19/05/2026 06:54 WIB

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih berlanjut pada awal pekan ini seiring derasnya arus keluar dana asing pasca pengumuman rebalancing indeks MSCI.

Efek MSCI dan FTSE Picu Outflow, Sederet Big Caps Kian Tertekan. (Foto: Shutterstock)

IDXChannel – Tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih berlanjut pada awal pekan ini seiring derasnya arus keluar dana asing pasca pengumuman rebalancing indeks global MSCI.

Sentimen tersebut semakin membebani saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang sebelumnya sudah tertekan oleh volatilitas pasar global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jatuh hingga 4,38 persen ke level 6.428,93 sebelum memangkas pelemahan dan ditutup turun 1,85 persen di posisi 6.599,24 pada Senin (18/5/2026).

Sementara itu, rupiah sempat menyentuh rekor terendah baru di Rp17.688 per USD di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arus modal keluar dan tensi geopolitik Iran-AS.

BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Senin (18/5/2026), menyebut sentimen negatif dari keputusan MSCI dan FTSE Russell menjadi risiko utama yang dapat memicu foreign outflow lanjutan dari pasar saham domestik.

Dalam tinjauan Mei 2026, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index serta mengeluarkan 13 saham dari MSCI Small Cap Index.

Meski perubahan tersebut baru efektif berlaku pada 29 Mei 2026, pengumuman itu langsung memicu arus keluar dana asing sekitar Rp1,5 triliun hanya dalam sehari. Sementara, sejak 1 Mei hingga 13 Mei 2026, asing membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp5,24 triliun.

“Tekanan pasar makin besar setelah FTSE Russell memberi sinyal potensi langkah serupa dengan MSCI terkait penghapusan saham-saham kategori konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC),” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.

Tekanan terbesar terlihat pada sejumlah saham big caps yang menjadi sasaran aksi jual asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat foreign outflow terbesar secara month-to-date (1-13 Mei 2026) mencapai Rp2,25 triliun.

Aksi jual juga terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), hingga PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

BRI Danareksa menilai tekanan tersebut lebih banyak dipicu faktor aliran dana pasif global dibanding perubahan fundamental emiten.

Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks global, passive funds yang mengikuti indeks acuan biasanya harus melakukan penjualan otomatis sehingga menekan harga saham.

Selain MSCI, pasar juga mulai mengantisipasi potensi langkah FTSE Russell yang disebut dapat melakukan pendekatan serupa terkait penghapusan saham-saham dengan kategori HSC.

Kebijakan itu diperkirakan berlaku efektif pada 22 Juni 2026 dan berpotensi menambah tekanan outflow asing dari pasar saham Indonesia.

BRI Danareksa menilai perhatian investor kini akan tertuju pada MSCI Market Accessibility Review Juni 2026.

Tinjauan tersebut dinilai penting karena akan menentukan apakah sejumlah pembatasan pasar Indonesia, termasuk Foreign Inclusion Factor (FIF), pembekuan jumlah saham beredar, hingga pembatasan kenaikan klasifikasi ukuran emiten, tetap dipertahankan atau mulai dilonggarkan.

Di tengah tekanan tersebut, beberapa saham masih mencatat akumulasi asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan net foreign inflow Rp392,7 miliar MtD, diikuti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), hingga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE